#KamiTidakTakut

Tagar ini menjadi trading topic sejak kemarin hingga saat ini ditulis. Tagar ini seakan menjadi jawaban balik atas aksi teror bom kemarin di Jl. Thamrin kemarin yang menimbulakan 7 korban meninggal dengan 5 dari pelaku serta 31 korban luka. Memang skala bom tidaklah besar namun aksi “perang-perangan” ala koboi dijalan seakan menjadi tontonan menarik warga sekitar.

Aksi teror kali ini TIDAK BIASA, menjadikan kedai Starbuck di Skylite sebagai sasaran namun meledak diterasnya dan Pos Polisi didepan Plaza Sarinah semua dengan aksi bom bunuh diri. Lalu ada aksi koboi pakai kaos branded & jeans tanpa jenggot dan jidat hitam yang menembakkan senjata kepada “bule” dan polisi sehingga terjadi baku tembak sebelum pelakunya ditembak mati.

image

image

image

Namun teror tetaplah teror, yang disayangkan kok tidak selesai-selesai malah seperti penyakit gatal-gatal, saat gatal ya digaruk. Selalu saja aksi ini berbuntut pada kematian si pelaku sehingga tidak pernah bisa dimintai keterangan untuk inveatigasi apalagi ada pengadilan terbuka siaran live tv swasta. Belum lagi, mesti ada beriringan dengan peristiwa penting tengah terjadi setidaknya OTT KPK terhadap kader PDIP, divestasi saham Freeport, dan Pak JK yang jadi saksi dalam pengadilan Tipikor.
Kerennya adalah warga sekitar tidak takut malah menjadikan “pertempuran” itu sebagai tontonan bahkan ada yang mengais rejeki dari para penonton hingga background foto selfie.

image

image

image

image

Penduduk dunia sampai takjub dengan begitu cepatnya recovery dari aksi teror, hanya butuh 2 jam saja maka keadaan sudah jadi normal.

Sekali lagi #KamiTidakTakut menjadi bukti bahwa DNA bangsa ini adalah PEMBERANI sejak zaman perjuangan dahulu. Inilah kekuatan bangsa yang unpredictable dimata negara lain.

It’s our inner power #WeNotAfraid

Masa depan seperti suatu yang ghaib, namun bisa diprediksi bukan diramalkan.

Masa depan hadirnya adalah keniscayaan sebagai akibat yang kita kerjakan saat ini.

Dengan indikator, tabiat, dan logika yang diperhitungkan dengan akurat maka apa yang ada dimasa depan bisa tergambarkan.

 

Masa depan merupakan suatu kontinyuitas dari masa saat ini. Artinya apa yang kita lakukan saat ini akan berpengaruh pada masa depan. Maka lakukan apa yang ada saat ini dengan baik, selanjutnya menuainya dimasa depan. Ibarat padi yang ditanam dengan perawatan, pengairan, pemupukan, dan segala pemeliharaannya sesuai dengan indikator yang benar, maka akan memanen hasil yang sangat baik.

 

Memang benar bila padi dilakukan pemeliharaan seperti itu akan berhasil karena tabiat dan pengalaman yang ada menunjukkan demikian. Namun bila ingin lebih besar maka lakukan hal yang besar.

 

Apa hal besar itu? “The best way to predict your future is to create it” – Abraham Lincoln

 

Tentukan masa depanmu sendiri sejak saat ini bahkan dengan cara penuh keyakinan, semangat pantang menyerah untuk mencoba, belajar, dan bertindak yang krearif, inovatif, & out of the box.

 

Bila lahan terbatas, bukanlah menjadi halangan justru memunculkan kreatifitas dan seni nan indah. Dengan keterbatasan lahan yang ada, padipun bisa mendapatkan panen yang lebih banyak dengan teknik hidroponik atau aeroponik, atau bisa juga “sawah” ini selain padi, juga mengasilkan ikan dalam konsep aquaponik. Disamping itu sawah tidaklagi becek & kotor, tapi indah dan bercitarasa seni.

 

Mungkin gambaran masa depan bisa tidak seindah prediksi dan pikiran, atau sebaliknya bisa seperti karya sang maestro.

Sang Maesteo sesunggunya sangat mudah untuk bagi-NYA untuk merubah mid-set, proses, bahkan hasil sekalipun.

 

“Tidaklah Aku merubah suatu kaum hingga dia merubah dirinya sendiri.”

Sudahkah menciptakan masa depanmu saat ini?

RESOLUSI 2016

Tahun baru pasti akan ada TANTANGAN baru, so taklukkan tantanganmu & ciptakan adrenalin kepuasan menaklukkannya di #tahunbaru2016.

Kita dudukkan MASALAH pada tempatnya. Jadikan pengalaman 2015 untuk kebaikan, temukan solusi & melejitkan potensi.

31 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

Ada banyak hal datang menghampiri diri, disaat datang maka kita akan meresponnya, bisa dalam hal itu baik atau buruk yang menimpa kita. Mungkin ini dianggap hanya sekedar kata-kata, tapi secara psikologis ini menunjukkan mind set alam bawah sadar.

Kali ini yang akan kita bahas dalam perspektif keumuman adalah hal buruk.
Pada prinsipnya, ini bergantung dengan persepsi individu masing-masing. Katakanlah yang menimpa ini disebut mayoritas orang adalah benar-benar hal buruk.

Maka mensikapi hal buruk ini respon kita ada 2 (dua) pilihan, kita menganggap itu MASALAH atau TANTANGAN. Kedua respon itu pasti berbeda pensikapannya.

Jika itu Masalah, alam bawah sadar mempersepsikan itu masalah maka mayoritas ada beberapa pilihan dalam bertindak secara sadar atau tidak sadar, yaitu menghindari, meninggalkan, atau menghadapi dalam bingkai keterpaksaan.
Akhirnya, sebenarnya inti masalah itu belum terpecahkan bahkan berpotensi seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Jika itu Tantangan, alam bawah sadar akan berespon untuk melawan untuk menundukkan, melawan untuk “kenikmatan”, atau mencari alternatif lain.
Saat itu tantangan, maka secara psikis membuat diri kita akan dengan senang hati menundukkannya, bahkan bisa jadi ketagihan untuk menghadapi tantangan lain yag serupa atau naik kelas bobotnya. Kenikmatan menundukkam bisa menjadi addict untuk memcari tantangan-tantangan lain yang itu menjadi jalan alternatif.

Maka persepsi pilihan kata “tantangan atau masalah” dari hal buruk yang menimpa anda menentukan cara anda mengatasinya.

Jadi apa pilihan anda?

BERPASANGAN

23 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

Inilah realitas kehidupan. Banyak kita temui satu kondisi namun mengandung dua sisi. Masing-masing sisi memuat maknanya sendiri. Bisa berbeda, bertolak belakang, atau mungkin sepadan.

Berbeda artinya tetap satu unsur namun berbeda secara wujud & fungsinya seperti pria-wanita.
Bertolak belakang artinya masih satu unsur namun berbeda pengertiannya seperti timur-barat.
Sepadan artinya masih satu fungsi & pengertian namun punya dua wujud berbeda seperti mata uang.

“Maka telah diilhamkan keburukan dan ketaqwaan, maka bergembiralah bagi siapa yang mensucikannya dan terpuruklah bagi siapa yang mengkotorinya”” (QS.Asy Syams: 8-9)

Itulah kita, Manusia, ada dua unsur potensi yang berbeda namun dipasangkan. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan menghadirkan pahala yang membuat kita bahagia, sebaliknya keburukan menhadirkan dosa yang membuat kesedihan.

Kemampuan manusia mengatur potensi baik dan buruk inilah menjadi seni beribadah, memunculkan dinamika yang berkembang menjadi ilmu pengetahuan, tata cara kehidupan, dan budaya.

“Manusia ada sisi buruk dan sisi baik, bukanlah diriku yang sebenarnya dengan menghilangkan sisi buruk namun diriku adalah yang mampu mengalahkan sisi buruk dan mengembangkan sisi baik” (Hulk – film)

Bagaimana mengalahkan sisi buruk? Sebagai makhluk ciptaan, maka seharusnya Sang Penciptalah yang paling tahu. Maka mari melihat risalah kitab suci yang terepresentasi nyata dalam semua sisi kehidupan kemanusiaan oleh para Nabi dan Rosul.

21 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

“Dan janganlah sekali-kali KEBENCIANMU terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuiapa yang akan kamu kerjakan”. (QS. 5:8)

Perintah itu jika diganti “Dan janganlah sekali-kali KECINTAANMU terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa”

Sungguh suatu perintah yang dahsyat yang artinya diminta berbuat adil meski saat itu dalam kondisi PSIKIS sedang benci ataupun cinta.

Selanjutnya ada kalimat dari Mas Pram “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
Kalimat ini sering dipakai kaum intelektual dalam hukum, kalimat itu mengajak agar bisa berbuat adil sejak dalam kondisi KOGNITIF. Artinya pada kondisi berfikir apapun maka berupayalah untuk bersikap realistis, normal, dan rasional. Hatters atau Lovers tidak akan mampu mencapai berfikir adil.

Dalam prakteknya berbuat adil lebih banyak menyinggung afektif karena adil sering menggunakan kata awal “rasa”, melakukan keadilan dalam berfikirpun kadang mati rasa sebab psikologis benci atau cinta ini.

Hakekat adil hanyalah Allah SWT yang bisa, manusia hanya berusaha mencapai rasa keadilan itu. Maka ukurlah norma-norma adil itu dari Tuhan karena Dia-lah Yang Maha Tahu. Mungkin ada multi tafsir, namun jika sudah diniatkan sejak awal ingin meneggakkan keadilan Tuhan, maka Insya Allah akan mudah.

Akhirnya yang paling ditunggu adalah aksi atau PSIKOMOTORIK karena AFEKTIF dan KOGNITIF tidak akan tampak. Dalam terminologi agama, niat & pikiran saja tidak terhitung dosa sampai terjadi aksi itu, namun jika kebaikan sudah mendapatkan pahala.

Maka sampai-sampai Ibn Hazm menulis “Termasuk bentuk kedzaliman terburuk adalah mengingkari orang yang sering menyakiti pada saat sesekali ia berbuat kebaikan”.
Tidak mudah memang menakar perasaan dan mengarahkan pikiran untuk meraih keadilan. Hanya kekuatan hati dan iman yang teguh saja yang mampu.

18 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

Awalnya istilah ini digunakan dalam marketing dan branding suatu produk, dan masih relevan untuk bidang lain. Misalnya kedua terminologi itu sering disebut pasca pemilu atau pilkada.

Keduanya itu hakekatnya beda tapi sama saja. Ada 3 prinsip persamaan keduanya, yaitu IRASIONAL, OVER, dan SPECIAL.

Irasional, keduanya benci atau cinta itu setulus hati bahkan mengarah kepada tidak masuk akal, mungkin kita akan mengenal kultus atau taqlid. Jadi apapun keadaanya dari produk ini akan dibela mati-matian jika suka, sebaliknya jika benci maka akan dicaci habis-habisan. Padahal produk itu pasti ada kekurangan dan ada kelebihan, sama juga manusia. Lawannya adalah rasional. Jadi be RASIONAL as human.

Over, reaksi lovers dan heters itu berlebih-lebihan bahkan malah mencari-cari kelebihan atau kekurangan dengan bumbu-bumbu bombastis. Meski sudah secara sadar produk itu ada cacatnya, lovers akan berusaha mati-matian mencari alasan pujaannya tetap layak dipuja. Dan juga sebaliknya jika membenci, akan berusaha maksimal mencari kesalahan agar layak dibenci. Lawannya adalah realistis. So be a REALISTIK.

Special, dalam hal ini lebih kepada penerimaan hati. Lovers akan menjadikan produk itu spesial menarik dihatinya, sebaliknya haters menjadikan produk itu spesial cacat dihatinya.
Lovers akan berusaha mempengaruhi orang lain agar tertarik kepada produk itu, atau minimal orang lain diam tidak bisa membantah. Sebaliknya heters berusaha mempengaruhi agar produk itu cacat. Lawannya adalah normal. So be a NORMAL one.

Semua kembali kepada individu, bersikaplah yang rasional, terukur dan normal dalam membenci atau menyukai. Be RASIONAL, REALISTIK, and NORMAL.
Kita benci pada perbuatan jahatnya, kita benci pada produk hasilnya yg cacat/gagal, namun kita tidak boleh benci kepada orangnya karena manusia itu sempurna namun bisa lupa dan salah.

So Anda termasuk yang mana?

KEBAHAGIAAN

15 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

Hidup bahagia itu pilihan bukan nasib. Bahagia itu harus diusahakan bukan ditunggu. Bahagia itu ditularkan bukan dikuasai sendiri. Dan yang lebih mendasar, bahagia itu insting manusia.

Karena bahagia itu pilihan maka semestinya banyak orang yang meraihnya, sebab semua tujuan hidup bisa saya pastikan ada poin bahagia.

Kebahagiaan tidak akan hadir dengan menunggu, sebab kita sendirilah yang mengupayakan. Seberapa banyak orang membuat anda bahagia tapi hati anda memutuskan merasa sedih maka usaha teman-teman anda tidak akan berhasil. Anda tinggal memilih mengupayakan membuka ruang hati untuk menerima pancaran kebahagiaan dari kawan yang mengajak anda.

Bahagia itu juga menular. Tengoklah, saat ada orang ketawa sendirian itu bisa membuat orang yang melihatnya ikut tertawa bukan? Semakin kecang ketawanya, maka semakin ketawa pula juga yang melihatnya.
Melihat kawan bahagia mestinya juga kita ikut bahagia, bila yang terjadi sebaliknya maka ada sesuatu yang salah, anda belum mengupayakan membuka ruang hati kebahagiaan sendiri.

Bahagia itu insting. Bayipun akan mencari kebahagiaan dengan caranya yaitu memangis untuk mendapatkan kasih sayang ibunda. Apalagi kita yang dewasa, pasti mencari kebahagiaan itu.

Yang paling penting dalam kebahagiaan adalah PROSES meraihnya. Hukumnya adalah untuk bahagia maka prosesnya juga harus bahagia dan BENAR sesuai dengan aturan Allah SWT. Jika menabrak hukum itu niscaya kebahagiaan tidak akan paripurna atau semu.
Miskin bisa bahagia, namun jika anda kaya juga bahagia akan lebih baik. Orang bodoh juga bahagia, namun jika ada pintar juga bahagia akan lebih baik. Jomblopun bisa bahagia, tapi jika anda menikah dan bahagia itu jauh lebih baik.

Pilihlah kebahagiaan anda.

14 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

Apapun yang menimpa kita tidak pernah tahu, inilah yang disebut nasib. Mungkin nasib berkonotasi negatif, tapi tidak juga karena nasib bermakna netral, bisa baik atau buruk bergantung sudut pandang si empunya.

Manusia hanya berusaha & berdoa agar memperoleh nasib baik. Tentu ada cobaan/ujian agar terfilter manakah yang terbaik amal perbuatannya. Ujian bisa berupa kenikmatan atau kesusahan, lagi-lagi itu bergantung penerimaan si empunya.

Jabatan adalah amanah, dan amanah adalah ujian. Maka berdamailah dengan nasib anda yang terpilih karena berat memang menjalankan amanah. Maka berdamailah dengan jabatan yang anda pegang dengan melakukan yang terbaik.

Itulah cara Allah memfilter anda dan memberi peluang kepada anda agar menjadi hamba pilihan, yaitu hamba yang terbaik.
Ibarat gabah, maka anda akan dipaksa bergesek, ditempa, digoyang, dan dipukul berkali-kali agar gabah tadi mengeluarkan lapisannya dan keluarlah butiran beras. Sebab jika hanya sedikit gabah maka tidak akan berhasil.

Mari kita lakukan yang terbaik. Meski sulit tapi harus tetap dijalani, anda masih bisa berfikir, bermusyawarah, dan berdoa dalam mengambil keputusan. Keputusan anda jika salah mungkin bisa merusak keadaan tapi Insya Allah mendapat pahala 1, itupun menjadi pengalaman berharga agar jadi lebih baik.

Maka berdamailah dengan nasib kita sendiri.

13 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

Memang ada sosok yang menjadikan diri 2 atau lebih brand personal. Misal Louis Vutton sebagai produk dan sosok individu.
Atau juga sosok Ibn Rusyd seorang filosof, sosiolog, mujtahid, fuqoha, karena karya beliau yang melegenda di bidang-bidang itu.

Tapi ini di Indonesia dan di era saat ini. Kultur kita “mengharamkan” beberapa brand bergabung. Namun ada yang “memubahkan”. Ini dampak agenda setting sekulerisme & kapitalisme.
Branding sosok ulama & politikus meski pernah dicoba namun masih gagal. Ada juga yang berhasil seperti sosok artis & politik, Dede Yusuf, Dedi Mizwar, dll pengamat mengatakan ketenaran artisnya digunakan untuk modal politik. Maka supaya eksis dan menjadi branding spesifik sebagai politikus mereka rela meninggalkan keartisannya, meski bisa saja kembali jika sudah pensiun.

Beberapa branding personal yang seakan tidak boleh menyatu dengannya adalah POLITIK. Apalagi jika itu diketahui oleh “saingan” anda, bersiaplah dibully yang sedikit banyak akan mempengaruhi brand possisioning anda. Tidak ada yang salah dengan politik, namun image politik yang kotor, akan ikut “mengkotori” brand anda.

Profesi GURU yang berimage baik bisa terdegradasi dengan image politik, maka kegiatan politik dilarang disekolah. Akan lebih runyam lagi jika SEKOLAH berimage politik. Bagi “saingan” atau “lawan” itu seperti bensin siap tersulut api, tinggal menunggu pematiknya saja. Lenyaplah brand personal guru atau sekolah itu, sekolah & guru bisa dianggap tidak netral sehingga kepercayaan hilang dan akhirnya ditinggal walimurid.

Memang tidak semua bidang seperti pendidikan. Sektor BISNIS relatif aman, karena banyak pengusaha yang juga politikus malah jadi simbiosis mutualisme.

Nah, apakah anda sepakat?

Laman Berikutnya »