Sebuah Impian Lingkungan Pendidikan

Pada dasarnya Sekolah tidak perlu ada. Saat pendidikan menjadi sebuah keniscayaan, bahkan sejak lahir hingga liang halat sekaplipun. Pada dasarnya mendidik adalah tugas orang tua dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Namun, ketika ayah sudah mulai sibuk dengan kepentingannya dengan dalih mencari nafkah, kemudian ibu sibuk dengan urusan rumah tangga sebagai bentuk bakti sorang istri, dan tetangga sekitar juga melakukan hal yang kurang lebih sama yaitu sibuk dengan urusannya masing-masing maka lahirlah  Sekolah. Ataou mungkin tidak separah itu sibuknya, mungkin karena Tidak Tahu harus didik apa anaknya agar siap dnegan era zamannya kelak.

Hadirnya tempat berkumpul para anak-anak dari orang tua yang “sibuk” ini seakan menjadi solusi bagi orang tua. Dengan ongkos ganti pendidikan dan perawatannya yang dapat dianggakan berupa rupiah. Tragisnya, pemahaman yang demikian telah lama berlangsung sehingga beberapa orang tua menganggap “saya sudah bayar maka anak saya haurs pintar!” maka jika begini kelak akan muncul ungkapan “saya akan bayar jika anak saya pintar, kalau anak saya tidak pintar ngapain saya bayar!”

Logika sederhana itulah yang semakin menjauhkan jarak antara peran lingkungan orang tua dan sekolah serta masyarakat. Idealnya (menurut saya sih…) anak-anak kita tidak perlu sekolah (secara formal). Mungkin terlalu kalimat saya ini. Namun ada komponen yang harus dipenuhi jika kita bisa melakukan hal itu, yaitu :

  1. Negara menjamin keahlihan dan kemampuan (skill) yang terbukti dilapangan bahkan memberikan apresiasi dan mefasilitasi terjadinya asimilasi kultur edukasi secara masif
  2. Masyarakat telah teredukasi secara sistemik pada perangkat strata kemasyarakatnya yaitu keluarga, RT, RW, Keluarahan, PKK, Karang Taruna, dll dan juga secara kultural yaitu tradisi membaca, mencoba, bertradisi ilmiah, menhargai, mengapresiasi, dan segala sikap positif dalam mensikapi pendidikan.
  3. Siswa atau anak itu sendiri siap dan termotivasi sebab mereka seakan seperti “objek” dari lingkungannya namun mereka juga menjadi subjek kelak jika kematangan tiba.

Singkatnya sekolah yang saya maksud ini adalah bukan gedung sekolah namun sebuah komunitas yang biasa kita sebut Kampung.

Bayangan saya adalah saat anak kita lahir, kita tidak pernah sibuk meikirkan harus sekolah dimana, ayah-ibunya dan keluarga beserta tetangga saling memberikan pendidikan mulai dari moral, etika, semangat hidup, berkarya, dan bekerja. Jadi jika ada ang anaknya menjadi Insinyur pertanian, maka kita tinggal meninitipkan anak kita di kampung pertanian. Disana sudah ada fasilitas bertani yang modern, penuh falsafah hidup bertani, dan yang penting langsung praktek bersama masyarakat kampung tani.

Atau jika ada yang ingin menjadi akuntan, banker, dll, maka di kampung itu terdapat banyak bank (seperti di Zurich -Swiss mungkin) maka mereka langsung belajar bagaiama dengan uang sejak kecil dan yang paling penting prakteknya. 1 kampung bisa untuk beragam profesi yang bisa saling melengkapi dan mengisi.

Trus siapa yang menilai. Ya penduduk kampung itu sendiri, maka penduduk kampung adalah orang-orang yang terbaik atau tokoh-tokoh di bidangnya, dan bisa membimbing secara profesional, beretika, dan penuh muatan falsafah kehidupan.

Sederhananya begini (bayangkan) : Sebuah kapung Perkapalan maka Mahasiswa dan dosen kampus ITS jurusan Teknik perkapalan, PT. PAL, Departemen Kelauatan, bahkan warga nelayan tinggal di satu kampung itu. Mereka belajar, membuat kapal, dan berinteraksi dengan nelayan di dukung oleh Teknologi PT.Pal dan Pemerintah mencarikan dana, maka hasil temuan mahasiswa dan dosen inu bisa langsung diproduksi masal dan bisa dipakai oleh nelayan.

Mungkin Kalau diera saat ini model yang demikian disebut Program Training Camp, Magang, Program Holiday Camp, dll sepertinya mirip namun ini dalam tempo waktu yang lama sesuai dengan sekolah formal dan jenjangnyapun bisa sama bahkan legalitasnyanun bisa diberikan (kalau perlu) makanya peran negara sangat dibutuhkan.

Sekolah ini yang mungkin disebut sekolah kehidupan. Saling terintegrasi antara siswa, orang tua, dan masyarakat dan segara sekaligus. Ini memang seperti utopia. Namun saya percaya kelak ketika pemerintah dan warganya sudah mulai terdidik maka ini bisa terwujud. Ini sudah mulai dirintis lho, salah satunya negara Finlandia yaitu negara yang termasuk sukses dan “mendidik” warganya. Artinya jika ada orang yang kesana, secara tidak langsung mereka akan terbiasa dengan model mayarakat sana.

Saya percaya bisa, buktinya kenapa jika warga kita di negara lain katakanlah di Singapura, mereka sangat tertip dan disiplin. Namun setelah pulang ke Indonesia, seakan hasil “pendidikan” lingkungan Singapura itu hilang. Terbuktikan !!!


  1. semoga pendidikan di negeri ini tdk hanya berkutat pada pencapaian hasil…
    karena menurutku proses lebih penting

  2. Entah sampai kapan dunia pendidikan kita semerawut ini. Kita mendambakan pendidikan yang tidak sekedar berorientasikan angka dan bilangan. Tapi membangun kekuatan mental dan emosi yang matang..

  3. Sofia Putri

    betulll, amin kita turut mendoakan buat pendidikan di negeri ini🙂




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: