GENERASI EMAS (2)

10 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

Lanjutan sebelumnya, untuk mewujudkan generasi emas maka semua elemen bangsa harus sepakat meletakkan PENDIDIKAN sebagai perhatian utama pada setiap aspeknya, setidaknya pada political will, kurikulum, SDM, dan Insfrastruktur.

Political Will, negara harus menata strategi kebijakan pembangunan pada semua aspek lini yang bersentuhan dengan kehidupan anak harus mengarah untuk mewujudkan generasi emas. Misalnya, pada aspek budaya maka semua acara TV harus harus ramah anak, edukatif, dan solutif. Pada aspek Sosial, kegiatan di masyarakat dari pusat hingga daerah juga harus memuat konten edukatif terhadap anak. Pada hankam, penamanan nilai disiplin, cinta tanah air dan bangsa juga dimulai sejak dini. Demikian juga yang lainnya.

Kurikulum, membangun peradapan tidaklah instan, perlu waktu, fokus, dan terarah. Sosok generasi emas tetap, meski ganti menteri/Presiden tidak harus merubah konsep. Evaluasi perlu dalam rangka perbaikan prosesnya, bukan merubah total.
Fokus kurikulum bukanlah proyek menghabiskan anggaran atau ingin dikenal dengan meninggalkan warisan, namun penguatan tahap demi tahap wewujudkan sosok itu.
Terarah, semua jenjang dari Pendidikan Dini, Dasar, Menengah, Atas, hingga Tinggi harus sesuai step by step dalam memenuhi qualifikasi itu.

SDM, muliakanlah guru. Perhatikanlah mereka sebagaimana saat ini negara memperhatikan kaum buruh. Ada Upah minimum, jaminan kesehatan, hari tua, dll. Penerapan ini tanpa ada perbedaan antara perusahaan swasta atau negeri. Saat ini negara lebih menunjukkan concern terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga perusahaan diberikan insentif, pelatihan, peluang kredit, dll kepada perusahaan, maka berikanlah hal yang serupa kepada Lembaga Pendidikan dan sekolah. Padahal syarat mendirikan sekolah sudah berat, pun demikian menjadi guru sesuai UU sudah tinggi S1, belum lagi kompetensi lainnya.

Infrastruktur. Andai sekolah itu seperti Franchise. Semua fasilitas, sarana, SOP itu sama, baik sekolah kota maupun desa. Ambillah model sekolah terbaik, lalu clonninglah. Anggaran kita tidak mampu? Menurut saya sangat mampu, APBN 2000T/tahun banyak dihabiskan dimana? Tentu di aspek ekonomi. Andai pengembangan ekonomi itu tidak boleh menyalahi proses pendidikan maka akan dahsyat. Tengoklah, berapa jurusan hadir tidak sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja, seakan jurusan itu hanya untuk mengisi job dosen yang sedang nganggur atau butuh sampingan.

Mari kita mulai dini buat nuansa pendidikan di keluarga, apabila negara belum mampu memenuhinya, atau hanya pasrah?




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: