GENERASI EMAS (1)

10 Desember 2015 at http://www.facebook.com/qodrat.ar

Generasi anak saat ini disebut sebagai Generasi Emas bangsa. Kenapa? Karena anak-anak hingga remaja saat ini akan menjadi pemimpin bangsa saat 100 tahun Indonesia atau di 2045. Maka dibuatlah profil sosok Generasi Emas itu. Hasilnya, lengkap meliputi semua aspek moral, pengetahuan, emosional, fisik, dan sosial masuk dalam profil, sangat setuju sesuai dengan cita-cita bangsa.

Pertanyaan seriusnya, Bagaimana mewujudkannya? Tentu lewat pendidikan.
Namun apakah serius pemerintah dalam pendidikan ini? Menurut saya masih jauh dari serius. Bagaimana tidak, political will pemerintah dalam upaya mengutamakan pendidikan sebagai garda pembangunan masih bisa dipertanyakan. Padahal, bangsa yang maju terbukti mereka yang serius mengutamakan pendidikan bagi generasi bangsa.

Dari aspek Guru, dari sisi branding profesi guru bukanlah bergensi, tengoklah pilihan prioritas calon mahasiswa kita, malah banyak memilih pendidikan guru karena terpaksa. Sebaliknya dinegara maju seperti Jepang & Finlandia, syarat menjadi guru lebih sulit ketimbang menjadi dokter atau insinyur, profesi guru sangat elit dan prestise.

Belum lagi tantangan yang dihadapi dalam mebangun generasi emas ini. Anak-anak lebih sering diberi tontonan & tuntunan film, sinetron, dan berita seputar gaya hidup manja, hedonistik, instan, gosip, kriminal, horor, dll. Media sedikit sekali mengekspos profil sukses dengan cerita kerja keras, semangat, dan tidak manja.

Apalagi kurikulum nasional yang acap kali berubah-ubah seakan tradisi ganti menteri ganti kurikulum, lalu standarisasi nilai yang egois, kenapa egois? Fasilitas, sarana, guru, proses pembelajaran dan lingkungan sosial masih belum standar tapi minta hasil standar, pabrik pun pasti beda hasilnya apalagi ini manusia. Fair, jika semua aspek nyaris tanpa beda sekolah antar sekolah di daerah & kota seperti franchise.

Sementara itu kesejahteraan para insan pendidikan ini kontras. Kalah dengan artis hot, penyanyi seronok, foto model syur, bahkan pelayan diskotek, dll mereka dibayar mahal dan disebut public figure.

Solusinya harus kompherhensif, salah jika pendidikan itu semata-mata tugas sekolah, mestinya tugas orang tua yaitu ayah sebagai penanggungjawab keluarga. Sekolah adalah pembantu tugas orangtua. Pemerintah adalah pengayom regulasi, buruh minta UMK naik tiap tahun, mestinya anggaran untuk guru dan sekolah juga layak naik tiap tahun, sensor acara yang tidak mendidik, perbanyak buat film inspiratif agar menyemangati generasi saat ini.

Indonesia tidak dibangun dengan santai namun kerja cerdas, keras, dan tuntas. Sudahkan memyiapkan generasi emas anda?




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: