PEMILU “IMAGE” 2009

Pilpres 8 Juli 2009 sudah menjelang, ada banyak perubahan yang dapat kita rasakan dalam kehidupan demokratisasi bangsa kita, setidaknya menurut saya. Ini ada beberapa pandangan perubahan yang dapat saya rasakan dalam proses demokratisasi khusunya proses PEMILU.

Pertama, mulai dewasanya pemikiran rakyat Indonesia, hal ini terbukti dengan situasi yang kondusif di setiap kali ada pemilu baik itu legislatif maupun presiden selama 2 periode ini, kita harap pilpres kali ini demikian juga. Meski diera multi partai dan sistem suara terbanyak calon legislatif yang memungkinkan banyak konflik dan pertikaian baik antar partai atau antar calon di satu partai yang sama tetap berjalan baik.

Kedua, Rakyat sudah semakin selektif, bergesernya sikap pemilih yang emosional ke rasional, hal ini dapat dilihat dari distribusi suara yang relatif tersebar diantara partai, ada suara naik dan ada suara turun, mungkin rakyat sudah bisa menilai mana partai yang baik layak dipilih dan mana partai yang tidak layak dipilih. Atau ini juga disebabkan oleh tebar pesona para kandidat dan partai lewat iklan. 2 (dua) partai baru Hanura dan Gerindra mampu lolos Parlemetary Threshold mengungguli partai lama, hanya partai yang memiliki basis masa yang kuat dan didukung kader yang militan yang tetap eksis.

Ketiga, Terjadi adu misi kandidat, yang paling ketara ini tampak dalam debat capres kali ini, meski dapam pemilu legislatif belum tampak. Saling kritik dan berargumentasi menjadi bahan yang tidak tabu lagi, meski masih terkesan malu-malu sebab merasa bahwa debat terbuka bukan bagian dari adat ketimuran, namun saya melihat ada perubahan ke arah positif, namun ini masih akan dilihat dengan hasil Pilpres kali ini, masihkan adat ketimuran yang malu-malu menjadi pilihan rakyat ataukan debat yang memberikan gambaran bagi pemilih menjadi pilihan rakyat yang semakin rasional. Kita tunggu saja.

Namun, ada catatan yang saya coba berikan, yaitu :

Pertama, Pertarungan image kandidat semakin tampak ketimbang pola kampanye yang langsung berinteraksi ke lapangan. Artinya tebar pesona melalui foto-foto di pinggir jalan, iklan lewat televisi dan media masa lainnya mewarnai. Yang menjadi catatan saya, harapannya semoga image tidak membuat terlena, mungkin saja kali ini mamapu melenakan, namun jika pemenang pemilu “image” kali ini belum bisa memuaskan harapan rakyat, mapemilu kedepan bisa membuat mereka ditinggalkan.

Kedua, Masih ada kampanye negatif disemua tim kampanye  yang berujung pengajuan ke pengadilan. Ini semakin membuktikan pemilu era image, sebab mereka takut kehilangan image. Menurut saya, diera terbuka kali ini silahkan berbendapat namun bisa memberikan bukti kongkrit tidaklah masalah, memang tipis perbedaan antara menghina dan berbendapat berbeda. butuh kedewasaan masing-masing kandidat.

Semoga pemilu kali ini berjalan baik dan terpilih pemimpin yang bersih, peduli, dan amanah terhadap rakyatnya.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: