MEMBACA FENOMENA MEMILIH KULIAH

Ditengah-tengah masa daftar ulang mahasiswa setelah lulus seleksi SPMB ke Universitas Negeri pilihan, masih ada 2.485 mahasiswa yang masih akan melakukan seleksi PMDK yang hanya memeperebutkan 594 kursi, belum lagi yang ikut seleksi Diploma. Seakan siswa alumni SMA/Sederajat kurang memiliki banyak alternatif pilihan. Padahal masih ada opsi pilihan melanjutkan studi di Universitas-Universitas Swasta. Fenomena pemilihan ini menarik untuk dikaji salah satunya oleh David Freemantle dalam buku How to Choose.
Metode pilihan adalah untuk menciptakan satu keadaan sadar mengenai lingkup pilihan tak terbatas yang tersedia bagi kita. Pilihan merupakan proses sadar dan bawah sadar, apabila ada sinar yang mengenai mata kita secara otomatis kita akan mengelak menghindari, lain halnya apabila anda mengelak menjumpai seseorang pasti ada sebab-sebab emosional yang terlibat dalam proses pilihan.
Alasan itu sendiri berasal dari pikiran bawah sadar dimana alasan tersebut telah tersimpan sebagai program kecil yang terpisah dari pengetahuan dan pengalaman yang dipelajari dari masa lalu, diingat, dan dibuat untuk penggunaaan masa depan. Katakanlah ada keputusan pilihan ke Universitas X atau Y yang dilakukan oleh siswa A. Alasan A terhadap Universitas X dan Y adalah 1, 2 dan 3, dalam kasus ini sebagai pengamat saya merasa alasan ke Y adalah lebih kuat, Padalal tentu perasaan saya bisa sama dengan A atau dengan orang lain atau bahkan tidak sama sekali. Inilah yang dimaksud pilihan pada dasarnya bersifat emosial sehingga meskipun tampak seakan-akan obyektif karena kesepakatan umum namun pada dasarnya subjektif.
Perasaan tenar dan mudah mendapat kesuksesan apabila belajar dan lulus dari Universitas Negeri meski mahal menjadi alasan-alasan yang tersimpan dan diingat dalam bawah sadar, tentu setelah melihat realita zaman masa lalu seakan menjadi kesepakatan umum, sehingga calon mahasiswa yang merasa diri mampu secara kognitif dan ekonomi mencoba peruntungan di Seleksi SMPB, PMDK, dan Diploma.
Padahal Universitas Swasta juga tak kalah bagusnya jarang menjadi pilihan. Mungkin alam bawah sadar masih memandang Universitas Negeri itu lebih murah dibanding Universitas Swasta, meski begitu informasi-informasi baru yang menyatakan sekolah yang bagus pasti mahal nyaring terdengar selanjutnya kesimpulan yang mudah adalah sama-sama mahal mending pilih Negeri sebab memiliki track record yang baik.
Dibalik mahalnya biaya sekolah mahal menurut Anita Lie yang sudah menjadi tuntutan. (Jawa Pos,5/8/07) padahal sekolah belum berani menjamin 100% kesuksesan hidupnya. Apabila menilik kembali fungsi pendidikan sebagai aktor perubahan sosial menurut Durkheim pendidikan perlu tampil sebagai pelayan kreatif bagi perkembangan/kemajuan masyarakat sekaligus musti juga ikut mewanai dan memodifikasi struktur masayarakat itu sendiri. Jangan samapai pendidikan menjadi “mesin sosial” yang ketinggalan zaman dalam mengikuti perubahan zaman.
Akhirnya selamat memilih calon agent of change, sesungguhnya pendidikan formal bukanlah satu-satunya tumpuan. Bukan rahasia lagi, apabila mahasiswa harus aktif mengembangkan diri mengembakan keahlihan unik dalam dunia yang kompetitif menjadi tuntutan. Sebab anda adalah perpaduan total dari semua pilihan yang telah anda buat.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: