SETITIK RINDU PECAHKAN BENCI

Wajah sendu itu menatap langit. Hampa, rintih batinnya. Malam pun kian meninggi suara burung hantu memekik menakutkan, purnama pun menjadi saksi kepedihan hatinya, wanita paruh baya itu tersudut dalam ciut hati. Mana jiwa suci dan lugu milik putri kecilnya, kini mata wanita paruh baya itu berawan, hatinya meronta menjerit murka. Diingatnya peritiwa siang hari tadi, anak semata wayangnya itu hamil , betapa bodoh dirinya selalu sibuk dalam pencarian dunia. Harta, harta, dan harta, adalah prioritas hidupnya. Kini, dia hidup hanya dengan kepingan-kepingan luka. Sendiri, tanpa putri kecilnya dan suami yang sangat ia cintai telah pergi untuk selamanya. Haruskah ia menyesali semua ini.??? “Apalah arti harta jika malu membuatnya begitu perih. Apalah arti kehormatan yang ia junjung begitu tinggi kini roboh akibat kelalaian dirinya sendiri” suara batinnya menggema. Butiran-butiran bening perlahan mengairi kedua pipinya yang mulai termakan usia. Ia menangis, tangisan sesal yang dalam. Sesenggukan ia berdoa sembari menatap langit malam yang masih dipenuhi bintang, dirajai purnama, diiringi suara burung hantu. Dirabanya hidung mancung miliknya. Basah, penuh air mata. Batinnya berkata bodohnya ia membiarkan putri kecilnya itu larut dalam pergaulan bebas remaja. Diingatnya lagi semasa kecil putrinya yang belajar mengucap kata mama, papa, maem, dan mimik, betapa bahagianya ia karena telah sempurna menjadi wanita. Menggendongnya, memberi ASI untuk kesehatan bayi mungilnya. Itu dulu sewaktu miskin melingkupi keluarga kecil itu. Dia, suaminya dan bayi mungil itu tinggal dalam rumah sepetak, hanya ada derita pikir wanita itu dulu. Akhirnya ia dan suami bertekad untuk berbanting tulang, memeras keringat , demi putri kecilnya yang beranjak balita. Tapi kini hartanya menggunung, perusahaannya dimana-mana, perhiasan dan uangnya memenuhi loker rahasia, relasi-relasi bisnisnya mendunia. “Apa yang aku pikirkan Tuhan, betapa lalainya aku sebagai hamba” sesalnya .Ada nama yang begitu asing yang baru terucap dari bibirnya. Tuhan.
Sekian lama ia lupa akan nama itu, yang terpenting baginya kebahagiaan putrinya.
“Dengan ini, ma , pa kalian beri aku bahagia. Tidak ma, pa,aku butuh kalian disisiku menemani tiap langkahku, membimbingku menuju cinta sebenarnya.Bukan ini”protes anaknya sewaktu dulu.
“Sayang, mama dan papa sangat mencintaimu. Lihatlah ini, ini bukti cinta mama dan papa dan mama untukmu” rayunya sembari melihat sekeliling rumah besarnya dengan bangga.
” Itu benar sayang, papa sangat sayang sama kamu, benarkan itu, ma?” bujuk suaminya seraya menoleh kepada istrinya yang cantik jelita.
Kembali ia renungi semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Malam semakin beranjak pergi, ia masih terpekur di sudut kamar besarnya. Sendiri, sepi memenuhi batinnya, jiwanya kosong berlari entah kemana, ia begitu rapuh, lemah tanpa daya.
“Kemanakah bahagiaku pergi, sedang semua yang aku impi-impikan telah aku dapatkan, apa yang kurang dari ini semua, Tuhan. Apa yang salah dariku, aku telah menyumbang ke ribuan panti, menyekolahkan, anak-anak yang tidak mampu. Kurang apa diriku,Tuhan. Kau ambil suamiku untuk lari menuju sisi-Mu, putri kecilku pun pergi meninggalkan aku sendiri. Ambil saja nyawaku,Tuhan. Ambil!!!”, hujatnya meraung. Air mata itu mengalir membanjiri pipinya yang mulai mengkeriput. Kerinduannya bergejolak batinnya menggemakan sayang, tapi mengapa ia menolak ketika putrinya hendak mencium punggung tangannya, kembali wanita 40 tahunan itu menundukkan wajahnya yang berawan, semakin pekat dan gelap lalu limpahan air mata dari mata lebar wanita itu tumpah ruah ditambah sesenggukan yang mewarnai kepedihannya.
Malam beranjak pergi menjemput mentari pagi. Begitu birunya langit pagi ini, ditambah cicicuit sekawanan burung bernyanyi riuh, semua orang bersiap untuk meraih segenggam harapan dan cita mereka, tapi wanita itu masih tergeletak di kasur bak raja miliknya. Dia terlelap dalam mimpi pagi hari, semalaman ia mencurahkan kepedihannya, sesalnya, dan uneg-uneg jiwanya. Kini ia ingin tenang sejenak dengan bermimpi dalam lautan tidurnya. Disana ia lihat putri kecilnya berjalan perlahan menuju pelukannya, wajahnya penuh balutan luka.Kusut tanpa adanya bahagia, kembali wanita itu berlari menjauh dari putri kecilnya penuh luka di batinnya, tapi gadis kecil itu tetap berusaha meraihnya, wanita itu semakin menjauh pergi, gadis itu tertatih-tatih mengejarnya.
“Bruaaaaak”, tubuh gadis itu terjerembab , gadis itu jatuh sembari meronta
”Ma, mama tolong ais ma,! “, pinta gadis itu seraya terisak-isak.
Tanpa menoleh wanita itu melanjutkan langkahnya dengan gontai, ragu ia berpijak ke bumi ingin ia lari menuju langit untuk melepas kerinduan kepada suaminya. Gadis itu berteriak, menjerit kesakitan seraya menumpahkan tangisannya yang bobol akibat rasa sakit yang menghinggapi tubuhnya. Masih penuh kebimbangan wanita itu untuk terus melangkahkan kedua kaki miliknya.
”Ma, Ais disini, tolong Ais, ma. Ais takut “ rengek gadis ayu itu sembari tanpa henti meneteskan air matanya.
Wanita tua itu tak bergeming, ia tetap kokoh seperti beton. Hatinya beku, sedingin es sulit mencair. Gadis muda itu memanggilnya lagi, hasilnya tetap sama, terabaikan layaknya debu tertiup angin. Tangisan gadis 18 tahunan itu semakin menjadi-jadi, sembari berulang-ulang di sela-ssela tangisnya wanita itu dipanggilnya, seraya berjalan terseok-seok gadis itu mencoba menjejeri langkahnya. Tapi, gedubrak tubuh gadis itu terjatuh, wanita tua itu menoleh, hatinya kalut, gusar, resah. Bisik hatinya, “ Oh, sayang apa yang terjadi padamu, Nak?”Gadis itu mencoba bangkit’
’’luka itu mengganga, lebar. Perih, akankah terobati dengan ucapan maaf darimu, Ibu” suara hati gadis itu menggema memenuhi alam pikirnya.
Wanita itu berbalik dari tubuh gadis itu, langkahnya gontai, pikirannya melayang terbang ke awan. Diingatnya, kisah indah sewaktu dulu, alangkah indah tatkala melihat balita sendiri merangkak, berjalan perlahan menuju dirinya.Indah. La-lu hilangkah cinta yang semerbak mawar merekah itu? Kembali gadis itu meraung, membuyarkan lamunan wanita tua itu. Gadis itu mencoba bangkit dari rasa sakit di tu
buhnya, hatinya yang lebih perih dan terluka, begitu pula jiwanya yang terasing jauh dari cinta, kasih, perhatian dan segala macam kebutuhan rohaninya. Gadis itu berhasil berdiri, tapi beberapa detik kemudian, ia ambruk lagi karena kaki yang terluka itu tak mampu membantu tubuh itu berdiri tegak, gadis itu tak henti mencoba berdiri, tekad-nyaq kuat untuk mencium punggung tangan ibunya, meminta maafnya dan mengata-kan sungguh dia mencintainya, tak ingin menyakiti hati ibunya. Sedikit pun tidak. Per
lahan ia berdiri, berhasil, tapi wanita tua itu semakin jauh, jauh hingga bayangnya tak terlihat, yang ada hanya kilap berwarna putih.
**********************
Segera wanita tua itu terbangun, “Apa arti mimpi itu?”, Tanya batinnya
Wanita tua itu berdiri, ia berjalan menuju tempat riasnya. Meja rias lengkap dengan produk tata rias kenamaan ada disana. Ia menaruh pantat di atas kursi riasnya, wajah yang sudah termakan usia namun masih menyisakan kecantikan ada di depannya. Wa
jahnya sendiri. Sisa-sisa air mata yang telah mengering, mata yang membengkak dan wajah yang penuh luka itu menghiasi dirinya. Tangan wanita itu diletakkan di wajah-nya, serasa ada beban berat yang begitu memukul dirinya. Hidupnya terasa perih, sepi kosong, tiada guna. Wanita itu berteriak sembari menyapu bersih kosmetik yang ada dihadapannya, matanya mulai mendung, dadanya mulai sesak, butiran-butiran be-ning itu pun perlahan mengalir, ia menangis lagi. Begitukah perih membuatnya tak kuasa berdiri meski ribuan juta ia miliki, oh betapa jahatnya dunia itu mengambil bocah kecil milikku, pikirnya. “ Apa salahku, Tuhan”, rintihnya berulang-ulang. Ia kembali menangis, menangis sejadi-jadinya, kelopak matanya yang kering kembali teraliri butiran-butiran bening, ia benci semua, benci dunia yang menyakiti putri kecilnya.
***************************************************
Tululut, tululut, tululut. Suara dering telepon membuyarkan lamunanya. Lamunan yang membutnya begitu perih, luka dan murka. Segera ganggang telepon berwarna merah itu diangkatnya. Suara dari seberang mulai terdengar dan sebuah suara yang amat ia rindukan itu pun menggema. Suara putri kecilnya, suara yang membuat rindu itu terobati, suara yang juga membuat lukanya kembali mengganga. Pemilik suara itu terisak. Mungkinkah lelehan air mata luka harus diberi sebuah nama.
“ Ma, ini Ais, Ma. Putri mama. Ais sayang mama, Ais selalu sayang mama. Maafkan, Ais, Ma.”, suara diseberang terdengar lagi.
”Ais, ingin min…..ta ma….ma….”, ada isak yang terdengar dari seberang.
” Ada apa, Ais?”, kata wanita paruh baya itu dengan nada khawatir.
Tetesan bening itu pun akhirnya mengalir. Bening, yang membuatnya tersadar akan luka yang juga hinggap di hati putri kecilnya. Begitu pula bening yang selalu memberi bengkak matanya. Bening pulalah yang selalu mengaliri pipinya yang mulai mengkeriput. Dan bening itu pula yang membuat segumpal benci terurai menjadi butir-butir rindu yang amat menyeruak dadanya.
“ Ais, Ada apa, Sayang?”, Tanya wanita paruh baya itu lagi.
Tak terdengar suara apapun di seberang, wanita paruh baya itu menjadi teramat rindu akan nada-nada sofran pemilik suara di seberang. Kerinduan yang membuat dirinya tidak pernah lelap sewaktu gelap memanyungi langit biru di angkasa. Terkadang biru itu ditemani gumpalan putih yang selalu setia.
” Ma….. mama. Ma, Ais rin…..du. Ais, ter…..”, pemilik suara itu angakat bicara.
Ada sendu yang terdengar. Ada isak tangis yang mempunyai makna. Sebuah makna kerinduan yang teramat melingkupi batin seseorang. Kerinduan itu memerlukan muara untuk melepas segala penat hati yang disebabkan oleh luka. Pemilik suara itu teramat membutuhkan oase kasih sayang yang telah lama tak pernah dirasakannya lagi. Oase yang sangatlah dibutuhkan, oase yang membuatnya tak lagi kehausan. Haus akan kehangatan, belaian penuh cinta milik ibunya. Oase milik wanita paruh baya itu.
” Ma……………….”, kembali suara sofran itu menggema.
Ada desiran yang memukul-mukul jiwa karang wanita paruh baya itu. Karang yang menjadikannya begitu jauh dari buah hati yang pernah tinggal dalam perutnya, buah hati yang pernah menikmati lezatnya air susu dari wanita paruh baya itu. Buah hati yang akan terlelap setelah digendong dalam jarit bermatif bunga-bunga dengan warna menyala. Bayi itu kini telah dewasa, telah menggandung cucu pertamanya. Cucu yang belum diharapkannya, cucu yang membuat benteng antara seorang ibu dengan putri kecilnya itu. Cucu tanpa sebuah ikatan suci yang pernah wanita paruh baya itu ikatkan dengan pria yang telah pergi dari hidupnya begitu pula papa dari pemilik suara sofran itu. Cucu tanpa ikrar janji yang disaksikan penghulu. Cucu tanpa pernikahan.
“ Sayang, kamu ada dimana?”, wanita paruh baya itu khawatir
” Ais, baik-baik aja, Ma”, suara di seberang kembali terdengar.
“ Ais, pengen ketemu mama. Mama, udah gak marah lagi ma Ais kan!”, lanjutnya mengiba.
“ Gak, mama sudah gak marah lagi, Sayang. Ais, ada di mana, Nak?”, bujuk wanita paruh baya itu lagi.
Nak, sebuah kata yang tidak pernah didengar Aisah, putri kecilnya itu. Sekian lama, begitulah kerinduan dapat memecah sunyi, pedih, luka yang membuat perih di jiwa, di sudut hati. Sebuah ruang rindu itu dapat menghancurkan itu semua. Rindu yang memberi kehangatan, kedamaian, rindu pulalah yang kini hadir menyusupi kedua jiwa ibu dan anak itu. Kerinduan adlah anugerah dari Tuhan. Maha pemberi kasih dan sayang. Maha pencipta rasa. Maha di atas maha cinta yang abadi.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: