ANGKA SEMBILAN

”Oh, my god.” gerutuanku kecil. Bibirku monyong beberapa senti ke depan. Pacaran??? kakak “berduel” denganku hanya untuk itu. “Oh, tidak.” hatiku membatin.
Kalau soal yang satu ini, aku angkat tangan. Malas. Bikin puyeng. Aku lebih suka dengan statusku sekarang. Jomblo. Tapi, aku emang anggota jojoba alias jomblo-jomblo bahagia. Bahkan sangat-sangat bahagia sebab aku punya cinta yang lebih indah, tentunya lebih berwarna bukan sekedar satu warna merah muda tapi jutaan warna.
“Flor, entar kakak kenalin cowok baru kakak. Ganteng.” katanya sembari mencomot gorengan pisang yang hangat.
“Ugh, paling-paling kayak yang kemarin-kemarin itu.” balasku bersungut-sungut.
“Aneh.” tambahku singkat. Kakakku melotot, matanya yang bulat hampir keluar. Ugh, takut.
“Jangan salah yang ini beda!” tukasnya seraya meneruskan suapan gorengan pisangnya yang berada di tangan.
“Kalo kamu dah dapet belum?” tanyanya tiba-tiba dengan menikmati kunyahan-kunyahan gorengan pisang yang berada di mulutnya.
“Ingat, perjanjian kita dulu!” tambahnya mengingatkan.
Ups, perjanjian itu. Pacaran. Ih, bukan gue banget. Seorang Mar’atus soliha kayak aku pacaran. Apa kata dunia nantinya, belum lagi teman-teman sejawatku. Dan pastinya aku bakal dapat guyuran segar kata-kata dari mereka. Dari teman-temanku satu tingkat bahkan seniorku, ustadza-ustadza itu ditambah lagi cowok-cowok berjenggot meski jenggotnya hanya beberapa helai mengantung di dagu-dagu mereka.
“Pasti kamu kalah ma kakak.” katanya seraya mencomot gorengan pisang lagi.
“Dan………..” katanya menggantung.
“Dan pasti kamu kalah. Kakak yakin.” jawabnya sendiri dengan wajah yang berseri-seri.
Aku tak peduli. Aku mengambil novel dari ranselku, novel ayat-ayat cinta. Novelnya bagus, ceritanya tentang pemuda tampan ditaksir lima gadis yang rupawan. Gadis-gadis itu berasal dari beberapa Negara dan ada juga yang beda agama dengan Fahri, pemeran utama pria di novel itu.
”Kalo kamu dapet cowok. Ehm, pasti nilainya 6 gitu deh.” tambahnya. Aku cuwek.
”Flor, kamu gak dengerin kakak ya?” katanya sembari menarik novel itu dengan paksa.
“Emang enak dicuekin.” jawabku sekenanya.
Aku tarik kembali novel itu, aku baru membacanya beberapa lembar. Banyak dan tebal. Dan novel itu harus aku kembalikan pada sobat kentalku. Dini namanya, gadis berjilbab gede yang menuntunku ke jalan cahaya.
“Entar sore dia dateng lho.” Promosinya padaku.
Aku masih asyik memakan kata-kata di lembaran novel itu. Ceritanya bagus, setingnya pun aku suka. Negara Mesir. Mesir githu lho! Belum lagi kata teman-teman ceritanya itu beda. Sangat berbeda dibandingkan novel-novel islami yang biasa aku pinjam dari teman-teman.
“Eh, tahu enggak kalo cowok kakak yang baru ini banyak yang ngejar-ngejar lho. Udah ganteng, pinter, kaya lagi. Siapa yang gak mau coba?” katanya bangga.
Bacaanku kabur, hilang entah kemana. Gara-gara perjanjian sial itu. Ups, salah ngomong. Astagfirullah, gumamku pelan.
“Eh, kok kamu bengong sih, Dik?” tanya kakaku yang rupawan. Wajahnya bulat telur, hidungnya mancung, dan kulitnya seputih susu. Wajah kakaku ini memang tidak beda jauh dariku tapi urusan pergaulan nya, dia jagonya maklumlah anak komunikasi di salah satu perguruan ternama di Indonesia. Lain denganku untuk hal macam itu. Males. Ogah banget!
“Enggak bengong kok.” kataku membela.
“Gak bengong tapi ngelamun.” katanya seraya menatap bola mataku yang bulat, berusaha menilisik di dalam biji mataku yang jernih.
“Pasti kamu lagi mikirin, gimana kalo kamu kalah dari kakak. Tenang aja deh, entar kakak kenalin teman-teman kakak yang sesuai seleramu deh.” promosinya berapi-api .
“Seleraku? Maksudnya?” tanyaku penasaran
“Iya, sesuai seleramu itu.” jawabnya sok tahu.
Tapi aku masih tak mengerti yang aku tahu kalo hubungan antara selera itu makanan, lalu selera yang ini apa. Sudut hatiku bicara.
“ Yang itu pinter ngaji, jenggotan kayak kambing, suka dengerin ceramahnya AA’ Gym, ustad Jefry atau ustad-ustad yang lain deh.” jelasnya panjang lebar seraya meletakkan gorengan pisang yang sudah digigitnya di atas piring cantik.
“Ih, kakak jorok.” kataku sembari melihat tingkahnya yang konyol itu.
“Bener kan kata kakak?” katanya yakin.
Aku yang ditanya malah diam seribu bahasa. Memang aku lebih tertarik dengan cowok seperti itu. Pendiam, pintar, pengetahuannya seabrek dari ilmu agama Ok, akademis keren apalagi politiknya. Belum lagi sikapnya yang santun. Semenjak aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri tepatnya Brawijaya aku mulai suka dengan cowok-cowok macam gituan. Wajahnya bersih, bersinar seperti diterangi lampu yang berdaya enam puluh watt githu.
“Oi, ngelamun lagi. Awas kesambet!”, katanya membuyarkan lamunanku tentang pemuda ideal di mataku.
“Gimana?” tawarnya lagi.
“Apanya?” balasku pura-pura tak mengerti.
“Itu temen-temen kakak yang mirip kam….” katanya hati-hati.
“Maksud Kakak mirip embek” lanjutnya lagi dengan meniru embikan kambing kemudian terkekeh.
***************************************
Sore hari, bunga-bunga di depan rumahku menunggu untuk diguyur air segar dari gayung merah muda milikku, bunga-bunga itu selalu rindu segarnya air yang aku tawarkan. Tapi, ketika gerimis menetesi mereka satu-satu sepertinya bunga-bunga itu tak lagi peduli akan kesegaran air yang akan aku cipratkan pada mereka. Mendung tak datang sore ini, itu berarti langit tak menggirimkan kristal-kristal bening dan segar itu. Dan aku yakin bunga-bunga itu dahaga sebab tanpa bening bunga-bunga itu tak dapat berfotosintesa meski di langit mentari selalu setia memberi energi pada bunga-bunga itu setiap harinya sesuai waktu peredaran siang dan malam.
Segera kutenteng ember dan gayung serupa warna di tangan kananku, air yang aku bawa begitu jernih dan bening. Aku guyuri “sahabatku” itu dengan air yang berada di dalam gayung merah muda, sepertinya bunga-bunga itu menikmati kesegaran airnya, merembes melewati celah-celah tanah menyusupi akar dan jaringan floem di batangnya akan membagi-baginya ke seluruh tubuh bunga-bunga itu. Dan tak lupa kelopak-kelopak bunga itu kusirami agar lebih berseri, dedaunan hijau itupun mendapatkan tetesan dari kelopak di atasnya. Ketika berlebih kristal bening itu akan turun setitik demi setitik seperti gerimis di langit ketika mendung bergelayut.
Ketika angin menerpa kelopak-kelopak yang menyala itu, mereka seakan tunduk mengoyang-goyangkan tubuhnya yang beraneka, ada hijau di daunnya, coklat pada tangkai dan tentunya warna-warni seperti merah muda, merah, oranye dan kuning yang mempercantik kelopakknya itu setuju dengan angin yang menggirimkannya semilir dari langit. Dan ketika itu, aku selalu berpikir kalau bunga-bungaku itu sedang tunduk pada pencipta-Nya dan pemberi harum dari tubuh milik bunga-bunga di pekarangan depan rumahku. Tapi, itu semua di atas nalar manusia, tidak dapat dikira-kira atau ditebak yang jelas semua yang berada di jagat raya selalu setia dan tunduk pada empunya. Allah yang Maha Kuasa. Pemilik semesta. Rabbul Alamin.
Bunga-bunga di pekarangan rumahku beraneka jenisnya, ada anggrek bulan yang mengantung di pot coklat yang terbuat dari pembakaran batubata, warnanya seperti terong. Ungu tua, tapi ada putih yang juga mempercantik anggrek itu. Ada juga si Raflesi Arnoldi yang akrab dengan warna salah satu bendera bangsaku, putih yang berarti suci. Bunga ini selalu setia menemani bantal, guling serta kasur empukku tiap malamnya sebab aku begitu menyukai harumnya yang dapat digunakan sebagai aroma terapi penambah hormon Oxytosin agar aku lebih bahagia. Begitu juga ada simbol cinta yang banyak digunakan manusia untuk mengungkapkan rasa yang berada di hatinya, si mawar yang beraneka. Ada mawar putih yang biasa dipetik ayah selepas pulang kerja untuk diberikan pada ibu sebagai simbol bahwa ayah begitu setia dan tak akan memberi noda pada pernikahannya, pada wanita yang rahimnya telah setia padaku serta kakakku untuk dititipi oleh Allah selama kurang lebih 9 bulan dalam perutnya. Dan juga ada mawar merah yang biasanya diberi pada pemuja-pemuja rahasia kakakku sebagai ungkapan cinta agar mereka sudi menjadi pria istimewa di mata kakakku yang cantik seperti putri dalam negeri dongeng.
”Mawar siapa tuh, Kak?” tanyaku penuh selidik pada suatu hari sehabis melepas kerinduanku pada bunga-bunga di pekarangan rumah.
“Biasa secret of mayor”, jawabnya pendek seraya menciumi wangi yang ditawarkan mawar merah itu. Kemudian membaca lembaran putih yang berada di sela-sela plastik yang membungkus rangkaian mawar merah itu.
”From your fans” katanya seraya membolik-balik lembaran putih itu dengan kening berkerut. Heran.
“Ehm”, lanjutnya lagi dengan membesarkan bola matanya yang bulat diiringi senyuman yang segar, sesegar mawar merah yang ada di pangkuan tangannya.
“Hati-hati lho!” kataku memperingatkan.
Ada desir yang aku takutkan tiap kali senyum yang meleret seperti bulan sabit itu terhias pada bibir merahnya yang segar. Yang diperingatkan malah asyik dengan wewangi yang dimiliki rangkaian mawar itu. Diciuminya kelopak-kelopak dari mawar itu berkali-kali dari hidungnya yang bergaya arab itu. Aku masih berusaha tersenyum melihat tingkah yang dimiliki kakakku seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru oleh ibunya. Begitu gembira. Mungkin sorak-sorai di hatinya sedang bergemuruh, tabuhan penasaran pun akan mengiringi nyanyian kebahagian hatinya sebab hormon oxytosin itu bertambah lebih banyak di otaknya.
“Pasti teman kakak yang sejurusan”, katanya seraya melihatku, mengharap kepalaku juga ikut berpikir untuk menggali lubang-lubang otak mencari tahu sebuah kebenaran.
“ Mene ketehe”, jawabku singkat menyudahi pembicaraan.
Malas. Aku tidak suka dengan hal-hal seperti ini. Membuatku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Stop, stop dan stop. Daun telingaku benar-benar bosan untuk hal itu, mungkin gendang telinga ini akan menggemakan ledakan ketidaksukaan begitu juga hatiku bergemuruh sebal apalagi alat pikirku itu dipaksa “ bekerja” dengan urusan itu. Gak level.
”Jawab dong, Flor!” katanya membuyarkan lamunanku.
“Udah deh, Kak. Flora malas”, jawabku seraya melangkah pergi menuju kamarku yang berdinding putih.
“Flor, tungguin kakak mo ngomong”, pintanya sembari mengekor di belakangku persis kucing yang meminta tuannya seekor ikan untuk mengganjal perutnya yang sedari tadi telah menyita habis energinya.
Aku mengambil Qur’an seraya mengambil kerudung warna putih di tempat gantungan baju di belakang pintu kamar. Memakainya perlahan berusaha tampil cantik di depan kalamullah yang dititipkan pada Rasullullah Muhamad sebagai pemegang risalah, nabi akhir zaman.
“Audhubillahiminassyaitonirrojim” kataku kemudian seraya melanjutkan bacaan suci itu.
“Ugh, emang aku setan” kata kakak dongkol karena melihatku cuwek dengan rasa penasaran dari fans barunya itu.
Dia ngeloyor pergi dari kamarku yang berukuran 3 kali 4 meter itu. Selamat, bisikku pelan. Aku melanjutkan ngajiku itu sebab baru empat lebar mushaf itu kubaca. Sedari tadi aku sibuk dengan tugas besarku. Biasa anak teknik sepertiku selalu mendapat tugas yang membikin minggu tenang sebelum UASku kacau balau. Tapi, tak apa demi menuntut ilmu aku rela. Toh, Allah selalu meninggikan derajat orang-orang yang berilmu beberapa tinggi dari yang lain. Bacaan al-qur’an itu kuperindah dengan tajwid meskipun baru beberapa ilmu tajwid yang aku ketahui seperti lambang untuk menghentikan bacaan sebelum berganti ayat yaitu mim sedangkan tak wajib berhenti yaitu lam besar yang berarti larangan untuk berhenti, sola paduan dari huruf hijaiyah, shod dan lam yang berarti lebih baik bacaan diterusakan serta qola yang merupakan simbol lebih baik berhenti ketimbang melanjutkan. Masih banyak ilmu tajwid lainnya yang perlu kuketahui seperti mad-mad yang harus dibaca seberapa panjang dan pendek. Aku suka mempelajari itu semua. Bacaan al-qur’anku semakin membaik tiap harinya sebab tak bosan-bosannya aku membaca lembar-lembar mushaf dan aku selalu ingat sepotong hadist yang dikatakan Rasullullah bahwa membaca ayat Qur’an dihitung per huruf hijaiyah. Dan itu berarti dapat menambah amalku sebelum aku tergolek lemas dalam kubur yang gelap serta dapat menggugurkan dosa-dosa yang telah kuperbuat di masa lalu.
**********************************
“Flor, sini kakak kenalin cowok baru kakak!” kata kakak semata wayangku itu seraya menyeret paksa tangan kananku menuju ruang tamu.
Aku yang baru pulang dari kajian Sabtu di masjid dekat rumah terpaksa mengikutinya. Seorang pria muda, tengah menikmati empuknya sofa berwarna putih dengan motif bunga-bunga di ruang tamu di dalam rumah kami.
“Nih, kenalin!” pinta kakaku sembari mendekatkanku pada pria muda tadi. Pria muda itu berdiri, wajahnya tampan ditambahi kulitnya yang putih bersih. Badannya tinggi besar mirip Fransisco Totti, idola kakakku yang posternya setia menggantung di dinding kamarnya tiga bulan lalu. Kakakku amat mengandrungi salah satu tim kesebelasan dari Negeri Roma itu. Sebuah klub sepak bola kenamaan di Italia sampai-sampai semua koran, majalah atau yang berbau wajah khas Italia itu numpang, segera kakakku mengguntingnya dan meletakkannya di album foto yang baru dua minggu itu dibelinya dari plasa foto di kampung halaman kami. Album itu berisi berbagai macam pose pemain bola dengan nomor punggung sepuluh.
“Mickey Sudarsono”, kata pria itu seraya menjulurkan tangan kanannya.
“Itu cowok kakak” kata kakakku sembari menarik-narik lengan tanganku.
Aku terdiam sejenak. Binggung. Maksud ini semua apa, dikenalin ama cowok barunya. Mau pamer kalo dia menang taruhan ama aku, adiknya yang gak kalah cantik ini. Ato sekedar bikin aku keder ma pria ganteng yang ada di hadapanku saat ini.
“Syut, syut, syut.” kata kakakku berulang membuyarkan lamunanku.
“Ayo kenalan!” bisik kakakku pelan seraya melotot padaku.
Aku langsung tersadar dari alam pikirku yang entah beranta tengah berkelana. Aku melihat tangan kanan pria itu masih terjulur padaku.
Segera aku melihatnya sekilas.
”Maaf. Siapa namanya tadi, ya Mas”, kataku dengan nada tak berdosa.
“Ooooh”, bibirnya membentuk bidang bulat, seraya melihatku dengan tatapan aneh.
Mungkin dia berpikir kalau cowok sekeren dan setampan dia, dicuekin ama hawa yang dengan wajah tanpa dosa yang lupa akan namanya. Minta maaf lagi. EGP, kataku dalam hati. Emang penting kenalan ma dia. Ih, jijay. Gumamku pelan. Aduh, kacau, pikiranku kacau. Aku kok jadi ngomongin orang dalam hati. Aku istigfar berulang kali meminta ampun dan memohon perlindungan pada-Nya.
”Mickey Sudarsono”, katanya lagi dengan tangan kanan yang setia masih tejulur.
“Panggil aja Miki”, lanjutnya sembari tersenyum.
Ugh, males. Kenalan ama cowok kayak gitu. Gak level. Bukan kriteria jodoh masa depan. Emang sih cakep tapi, hati gak jamin. Wajah boleh bening kayak air tapi, hati siapa tahu keruh kayak air kali. Gak ada jaminan masuk surga kalo dapet suami kayak itu. Ih, ngeri. Gayanya selangit kayak selebritis tapi enggak sopan, enggak santun. Tuh, lihat matanya yang sipit melotot terus ngelihatin aku, emang aku monster yang kudu ditakutin. Ih, aku ngeri ama nih cowok, jelalatan ngelihatin aku dari atas sampe bawah. Emang dia sapa, calon suamiku. Calon suami aja gak boleh ngelihat dengan berlebihan kayak githu. Dasar cowok mata keranjang. Aku ngedumel panjang lebar dalam hati. Ketika aku sadar akan makian yang melintas di otakku itu segera aku beristigfar berulang-ulang.
“Hello?” kata pria tadi dengan tangan digoyang-goyangkan di depan mataku
Aku tersenyum. Senyuman yang kecut dan dipaksa. Lalu menggabungkan jemari-jemari tanganku dan berkata singkat, “ Flora”, sejurus kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang tamu yang cukup besar itu.
”Bentar ya, Say”, kata kakak seraya menjejeri langkahku.
“Flor, tunggu!” kata kakak dengan wajah agak merah.
Aku berhenti di depan pintu kamarku. Mencoba setenang dan sehalus mungkin menerima cacian kakakku yang semata wayang itu. Mungkin kakakku akan marah sebab aku tak sopan pada tamu istimewanya, tamu yang tadi siang ia ceritakan dengan menggebu-gebu, tamu yang kini berada di ruang hatinya. Aku gak peduli, aku sebel. Sebel. Hatiku bergemuruh marah meski aku coba berlaku sesantun mungkin, tetap saja aku tak bisa.
“ Ya. Ada apa?”, tanyaku dengan bibir berkerut seraya mataku tak henti-hentinya berputar melihat sekeliling.
“ Flor, kamu kok githu sih ma Miki. Kakak gak suka ama sikapmu barusan. Gak sopan.”, kata kakak dengan nada jengkel.
“What’s wrong?”, tanyaku kemudian dengan mata yang masih bekelana melihat sekeliling tanpa peduli kakakku yang berada di hadapanku kini.
”Iiiiiiiiiiiiih?” Kata kakak gemas, kedua tangannya dikepal ke atas kemudian menaruhnya lagi ke bawah ditambahi lagi dengan mulutnya yang dikerutkan.
“Awas ya!” ultimatumnya keluar sejurus kemudian dia ngeloyor pergi.
Mataku berawan. Seperti mendung yang bergelayut ketika gerimis akan menetesi bumi. Tetesan-tetesan gerimis kini beralih pada kedua bola mataku, menetesi pipiku yang montok dan putih. Tak hentinya dadaku berguncang layaknya guntur yang menambah derasnya hujan. Aku merasa sesak di sini, di kedua paru-paruku, kanan dan kiri. Aku menangis. Seorang Flora Kolenkima, muslimah tomboy yang jago taekwondo, super jahil dan aktivis paling cekatan kini menangis. Aku lari menghempaskan tubuhku di kasurku yang empuk. Wangi-wangi melati yang sedari tadi aku tebarkan di sprei kasurku yang bergambar mickey mouse. Tangisanku pecah dibantal. Kristal-kristal bening itu berhamburan di pipi, turun ke bawah dan membuat bantal kesayanganku basah karena air mata. Dadaku pun turun naik, sesak menghias dan membuat jantungku pun berdenyut lebih kencang. Aku menahan isak yang sedari tadi bergemuruh membuatku sesengukan berkali-kali tapi tak hentiunya air mata ini muncrat keluar, mengaliri pipiku yang gembul.
“Aku gak boleh nangis. Gak boleh”, kataku menguatkan hati tapi butiran-butiran bening masih saja bergulir.
“Flora kuatkan hatimu, tegarkan dirimu meski badai menerpa badanmu tapi satu jangan sampai iman menggerogoti yakinmu”, sebuah untaian kata yang selalu setia menghiasi dinding di kostku.
Kalimat itu selalu aku ingat ketika jalan menuju pelangi itu terhambat dengan meteor-meteor yang menghujani kapal angkasaku. Aku selalau ingin melihat pelangi itu lebih dekat agar aku bisa merasakan wewangian kesturi yang ditawarkan surga. Sebuah kehidupan abadi. Tapi, meteor-meteor itu menghalangiku menuju pelangi yang berwarna-warni. Mereka berusaha menjadi penghalang perjalananku ke luar angkasa. Tapi aku punya bom yang bisa melumatkan mereka, membuat meteor-meteor itupun berhambur dan terpecah berkeping-keping di angkasa. Bom itu ibarat imanku pada-Nya, bom itupun kesabaran yang harus tertanam di hatiku sebab jalan menuju pelangi teramatlah sulit untuk kutapaki. Keindahan warnaya harus dilihat dengan mata yang suci, mata tanpa lirikan kanan dan kiri. Mata yang senantiasa terjaga di sepertiga malam, mata yang selalu hidup untuk melihat dan mencari kebenaran.
**********************************
Malam begitu riuh. Banyak bintang yang berpijar memancarkan cahayanya yang berkelap-kelip. Purnama menjadi raja di malam ini, semilir angin menyapa lembut menyentuh kulit. Ujung syaraf Krause yang berada di lapisan terdalam kulitku itupun merangsang tubuhku untuk merasakan dinginnya angin malam. Aku masih duduk-duduk di kursi rotan di teras rumah. Mataku menyapu di pekarangan, melihat goyangan-goyangan bunga-bunga itu ditampar angin. Aku merasakan wangi yang menusuk indra penciumanku, menebarkan keharuman yang beraneka dari “sahabat-sahabatku” itu. Hatiku kalut, menanti wanita cantik yang saat ini sedang menikmati kesegaran di luar sana. Dengan pria berketurunan Thionghoa, Mickey Sudarsono. Pacar barunya yang baru ia kenalkan padaku tiga bulan yang lalu . Aku ingin mencegahnya ke luar berduaan tapi tetap saja hatinya bersikukuh bahkan menggeras seperti batu.
Jam sembilan lebih lima menit. Kakak belum juga datang. Aku melangkah masuk sebab ibu berulang-ulang memanggil namaku agar aku bersegera makan malam. Sedari tadi setelah solat isya, aku memutuskan untuk tidak makan malam bersama ibu. Aku khawatir dengan kakak semata wayangku itu, takut terjadi apa-apa.
“Flora, Flora” panggil ibuku berulang-ulang.
“Bentar, Bu”, jawabku kemudian.
“ Makan dulu, Nak! Tak usahlah kau pikirkan kakakmu. Dia akan baik-baik saja. Toh, dia ditemani ama siapa itu. Ibu lupa namanya” jelas ibu panjang lebar.
“ Miki. Mickey Sudarsono”, kataku menyebutkan nama pacar baru kakakku yang dua minggu lagi akan bertunangan.
“Ya itulah. Namanya aneh mirip film kartun yang biasa kamu tonton itu. Yang tanyangnya tiap minggu pagi jam berapa itu, ibu lupa. Maklum banyak pikiran dan kerjaan.” kata ibu lagi.
“Oh ya. Kapan kamu bawa pacar ke rumah ini? Ibu pengen kamu deket ma cowok. Ibu lihat kamu dari dulu gak punya teman cowok istimewa. Ingat tiap hari umurmu akan bertambah lebih tua.” nasehat ibu meluncur tiba-tiba.
Aku terbatuk-batuk sebelum menyendok nasi ke dalam piring. Heran, kenapa ibu tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang enggak bisa aku jawab. Jangan sekarang, Bu untuk menyuruhku nikah. Please aku masih mau belajar ke Jepang buat studi S2, meraih gelar master seperti almarhum ayah. Tapi bukan master scientist seperti bidang yang ayah ambil, bisikku dalam hati.
“Kenapa kamu, Flor? Sakit? Nih diminum dulu susunya!” kata ibu seraya menyodorkan segelas susu.
Aku memungut gelas susu itu kemudian kuteguk perlahan. Air susu itu membasahi tenggorokanku membuatku merasa sedikit tenang.
“Gak. Enggak apa-apa kok”, jawabku dengan napas naik turun.
“Flor, ibu pengen punya cucu. Maklum ibu sudah tua. Kepala empat”, kata ibu lagi sembari melihatku makan dengan tergesa.
“Kok kamu makannya cepat-cepat. Awas tersedak!” kata ibu mengingatkan.
Aku masih melahap sepiring nasi lengkap dengan kuah dan lauknya. Ada seiris daging sapi yang digoreng garing dan dipenuhi beningnya kuah soto yang sudah dingin ditaburi irisan tipis-tipis bawang goreng.
“Flor, ibu gak ngelarang kamu pake’ jilbab gede. Tapi, ibu gak mau kalo semua orang bilang kamu teroris. Ibu cuma pengen lihat kamu seneng di masa muda kamu. Gak seperti ibu yang harus bekerja keras semasa kuliah dulu. Banting tulang. Kerja paruh waktu sambil kuliah”, kata ibu lagi melanjutkan.
“Flor, kenalin ibu ama pacar kamu nanti, ya. Ibu pengen lihat calon mantu.” katanya sembari tersenyum.
Senyuman hangat dan penuh kasih. Tapi, ibu menyuruhku pacaran. Oh, tidak. Apa kata dunia baruku. Dunia yang baru aku masuki sewaktu semester tiga dulu. Aku enggak mau pacaran. Malas. Bikin numpuk dosa. Kak, kenapa sih kamu mutusin untuk pacaran lagi. Ganteng sih ganteng tapi agamanya itu lho. Cuma islam ktp aja, gak mantap. Mana ayahnya Cina dan nonI lagi, belum ibunya yang gak tahu kemana. Hilang kayak dilumat bumi. Ugh, sebel deh. Pengen dakwah di rumah, ngerubah jadi kondisi yang Islami. Sulitnya masya Allah. Cobaan apalagi ini. Aku pusing. Capek. Uneg-uneg yang ada di alam pikirku bergema.
“Sepertinya ada suara mobil yang berhenti. Kamu lihat dulu sana. Biar ibu cuci piringnya..” suruh ibu padaku.
Aku meletakkan sendok di atas piring. Menelungkupkan sendok itu sebagai tanda makan malam telah selesai. Segera aku beranjak dari kursi di meja makan yang tak jauh dari pintu belakang dekat pekarangan rumah. Sengaja ayah mendesain rumah ini dengan pintu di ruang dapur. Tujuannya tak lain jika ada tamu berkunjung dan makanan ringan ato minuman habis, ibu bisa segera membelinya tanpa melewati ruang tamu. Pintu dapur bersebelahan dengan ruang tamu tapi agak menjorok ke dalam. Aku segera berlari ke luar. Ada sorot lampu mobil menghamburkan cahaya, membuat partikel-partikel debu dan asap terlihat jelas di jalan kecil depan pagar besi rumah kami. Mobil Avanza warna putih nangkring di sana. Aku celingukan, sebuah kepala nongol dari balik pintu mobil. Seorang wanita dengan pakaian yang ketat dan menonjolkan lekuk tubuhnya. Itu kakakku. Pakaiannya seksi dengan rambut yang sengaja digerai panjang. Bismillah, desisiku renyah dan segera menghampiri pagar besi yang bercat putih itu.
Wanita itu melambaikan tangannya ke Avanza yang melaju pelan di jalanan kecil depan rumah kami. Aku membuka pintu pagar dan menyalaminya.
“ Hai kak”, sapaku seraya menarik bibir ke kanan dan kiri. Bertingkah seolah semua baik-baik saja tapi dalam hati aku menjerit-jerit sakit. Perih.
“Eh, kamu. Aduh kakak capek banget nih!” balasnya seraya melangkahkan kakinya yang berbalut jeans ketat yang baru dibelikan pacarnya sebagai kado ultanya yang kedua puluh tiga tahun.
Aku mengekor mengikutinya, kulihat kakakku begitu lelah. Entah dia habis pergi kemana pulang selarut ini, Setengah sepuluh lebih du puluh menit. Aku akan bertanya padanya besok pagi sebelum aku balik ke Malang. Ya, aku harus berani dan serius. Aku harus bilang padanya kalo aku sayang sama dia, ingin mengajaknya melihat pelangi ato sekedar membuatnya tersadar kalo yang dilakukannya itu merugikan dirinya. Bisik hatiku.
**********************************
Minggu pagi yang cerah. Setelah solat subuh berjamaah tadi aku membantu ibu memasak di dapur. Kami ingin menghidangkan menu special buat kakak semata wayangku itu. Nasi goreng ati kesukaanya lengkap dengan bawang goring, telur dadar yang diiris tipis-tipis, daging ayam yang disuir-suir panjang dan irisan cabe yang sangat ia suka. Sebagai menu pembuka kami membuat bubur kacang ijo campur ketan hitam, manis sekali. Sebagai pelepas dahaga aku dan ibu sudah menyediakan jus jeruk minuman favoritnya. Tak lupa kami membuat beraneka gorengan.
“Pasti kakakmu seneng dengan kejutan yang kamu usulkan sehabis subuh tadi”, kata ibu di sela-sela mengatur posisi hidangan di meja makan.
Aku tersenyum. Semoga, bisikku dalam hati. Aku ikut menata hiasan di meja makan. Bunga mawar merah yang kuletakkan di vas bening di atas meja makan. Vas yang berisi bunga kesukaan kakak itu kuletakkan di tengah-tengah dekat nasi goreng, bubur kacang ijo, dan gorengan-gorengan seperti pisang, ketela serta tempe kering.
“Sana panggil kakakmu!” perintah ibu.
“Iya, Bu.” balasku sambil mangut-mangut mengiyakan.
Kakak pasti lagi asyik dengan tidur paginya sehabis solat subuh. Ia pasti melakukan rutinitas itu. Tidu pagi hari. Aku menuju pintu kamarnya yang terbuka. Kulihat sesosok tubuh berpiyama itu lelap di kasur yang empuk.
Aku membangunkannya perlahan agar Ia tidak kaget melihatku.
”Kak. Kakak.” kataku pelan seraya mengoyang-goyangkan tangasnnya yang memeluk guling.
“Ehm”, balasnya sambil melihat ke arahku. Matanya masih agak tertutup. Kakakku belum sadar dari mimpinya
”Kak, bangun kak!” kataku lagi sebab kakakku masih memejamkan mata.
Matanya hampir terbuka kemudian Ia bangun lalu rebah kembali. Aku kesal. Segera kuambil weker berbentuk waru di meja sebelah kamarnya. Sebuah pikiran jahil itu muncul. Dan sejurus kemudian suara alarm dari weker itu menggema membangunkannya. Aku mesam-mesem melihat kakakku itu kebingungan.
”Ha…ha…..ha.” teriaknya kaget, aku yang berada di sebelahnya hanya bisa tersenyum. Lucu.
“Apaan sih?”, tanyanya kemudian sembari menggaruk-garuk kepalanya.
“Disuruh makan ma ibu.” jawabku seraya menarik guling yang masih dipegangnya.
”Resek.” katanya singkat sembari meraba-raba di mana gulingnya kini berada.
“Makan dulu! Dari tadi bobo melulu”, kataku, masih memegang gulingnya yang empuk.
“Siniin gulingnya!” perintahnya dengan nada marah.
Aku maklum kakakku emang jago bobo pagi, ogah olga pagi hari dan jarang sekali makan jam 7 pagi. Tapi kalo di kosannya aku gak ngerti apa benar dia kayak githu. Malas, pengen bobo melulu.
“ Bangun. Ayo bangun, kak!”, perintahku dengan memegang tangan kanannya.
“Ok. Ok. Kakak bangun nih.” katanya masih setengah ngantuk.
“Githu dong.” balasku kemudian.
Di ruang makan, seorang wanita paruh baya sedang meletakkan piring. Berdiri di meja makan. Wanita paruh baya itu cantik dengan rambut disanggul. Wanita paruh baya itu memiliki hidung yang mancung, rambut yang agak ikal dan kulit yang agak hitam. Dia memang keturunan arab, warganya Judge. Wanita itu adalah ibuku. Namanya Aminah Judge.
“ Wow”, teriak kakakku kaget, matanya yang besar terbelalak mempelihatkan bulu matanya yang lentik dan tebal.
“Special For you.” jawabku membalas kekagetannya itu.
Kedu bola mata yang indah itu menyapu meja makan. Dilihatnya satu persatu hidangan yang tersedia. Persis orang jualan sebelum buka puasa di bulan Ramadhan. Penuh dengan makanan dan tentu saja enak. Kakakku mangut-mangut melihat menu pagi ini. Mungkin di otaknya sedang berpikir ada perayaan apa makanan kok tumpah ruah. Aku tersenyum melihatnya. Semoga dia senang dan setelah itu aku akan bertanya pergi kemana dia semalam. Tapi, setelah waktunya tepat. Dan aku akan bilang soal perjanjian itu. Perjanjian yang membuat hidupku sengsara ketika memikirkan jika aku kalah.
“Ada apaan nih? Kok menunya istimewa banget.” tanya kakakku penasaran, matanya masih menyapu meja makan.
Aku menarik kursi makan untuknya. Keningnya berkerut heran dan kemudian duduk manis di sana. Ia tersenyum. Manis sekali, semanis gula.
“Silakan dicicipi! Ini menu istimewa dan paling istimewa.” tawarku sembari tersenyum.
Aku, ibu dan kakak duduk di kursi makan,kami sarapan pagi bersama. Jarang-jarang kami melakukan hal ini sebab aku dan kakak harus balik untuk kuliuah. Kakakku balik ke Surabaya tiap hari Sabtu, katanya kalo dia balik hari Minggu, ia gak bisa ngerjain tugas. Sedangkan aku baru balik sehari kemudian tapi agak siangan dikit kira-kira jam setengah satuan githu biasa ngejar kereta api. Irit ongkos. Ato kalo aku dan kakak ada, ibu pasti ada di pasar, rutinitas mingguan yang selalu dilakukannya apalagi kalo bukan belanja. Nah, hari ini moment yang tepat buat ngumpul, kakak dah jarang kuliah sebab dia baru ngajuin skripsinya dan ibu sudah hari Sabtu kemarin belanja di pasar. So, kami bisa ngumpul bareng di sini, di meja makan. Tapi, ayah gak ada, rasanya ada yang kurang. Sepi. Biasanya ayah akan mengkoreksi menu yang akan dimakan. Apakah seimbang gizi, steril ato tidak mengandung koresterol.
”Flor, nih bubur kacang ijo kamu!” kata ibu mebuyarkan lamunanku. Aku yang ditegur kemudian tersenyum.
Ada bahagia yang aku rasakan ketika berkumpul dengan mereka. Tapi, apakah aku bisa ketemu mereka di surga nanti. Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di otakku. Aku tidak ingin mereka jauh dariku, dari Allah. Mereka amat aku sayangi di dunia ini. Memang mereka tak lupa menjalankan lima waktu dan ngaji tiap malam meski hanya beberapa ayat. Tapi, yang satu ini kewajiban yang masih mereka langgar tidak menutup aurat. Kalo ibu meski memakai kerudung tapi tetap saja terlihat lehernya, rambutnya. Kakakku apalagi, tak mau pake. Katanya gak modislah, gak gaullah, gak kerenlah, kayak mo pengajian aja. Ribuan alasan yang terlontar sewaktu aku memintanya mencoba jilbab Inova yang kuhadiahkan padanya. Padahal jilbab itu lagi In dan modis.
“Oi, ngelamun aja sih. Tuh buburnya mubadzir entar dimakan lalet lagi.” kata kakak mengejutkanku.
Aku menganggukan kepala dan mulai menyendok bubur itu. Rasanya manis, enak tak kalah dari buatan warung di dekat kosanku. Aku memasukkannya ke mulut, lidahku merasakan nikmatnya bubur kacang ijo hasi kreasiku dan ibunda tercinta.
“Gimana dah dapet cowok? Ntar kenalin ke kakak, kita lihat siapa yang menang di antara kita. Yang dapet cowok denga angka sembilan di mata kita, sesuai kesepakatan kita dulu. Perjanjian itu lho. Kamu gak lupa kan, Flor?”
Seberondongan kalimat itu membuatku tersedak. Bubur kacang ijo yang baru beberapa detik melewati kerongkongan itupun muncrat ke luar. Aku kaget. Aku ingin membicarakan perjanjian itu dengan timing yang tepat bukan sekarang. Lagi pula aku belum punya calon saat ini. Kalaupun punya aku pasti akan segera menikah. Aku mendelik seraya mengambil segelas air putih. Aku meneguknya perlahan. Kesegaran itu membuatku sedikit fresh dan tenang. Bismillah, desisku renyah.
“Belum.” jawabku singkat seraya membersihkan bekas bubur yang barusan keluar.
“Inget lho, flor. Perjanjian yang kita buat itu batas waktunya sampe ultamu yang kedua puluh satu. Terus tinggal berapa bulan lagi ya?”, kata kakak seraya menyendok bubur lagi.
“Perjanjian apa? Ibu kok gak dikasih tahu”, sela ibu dengan nada heran.
“Aku gak suka kalo makan sambil ngobrol ntar aja. Ora ilo.” sambutku jengkel.
“Cie, what’s wrong?. Apa salahnya ibu dikasih tahu soal perjanjian sewaktu kamu mau masuk kuliah. Ya kan?” kata kakak seraya melihatku memasukkan bubur dengan segera.
“ Ugh, lahap banget. Laper ato…….?”, kakakku mangut-mangut tak mengerti.
Aku mencoba rileks dengan terus menyendok bubur kacang ijo di mangkuk. Tak peduli dua pasang mata menatapku aneh dan binggung. Sebab aku ingin cepat-cepat menyelesaikan sarapan pagiku. Tinggal beberapa sendok yang kudu kumakan. Taksiranku kira-kira empat sendok lagi. Aku gak mau ngomongin ini ma ibu, pasti ibu akan bersegera menanyaiku. Dan jika aku jawab belum punya calonk, ibu pasti menjodohkanku. Oh, tidak.Dijodohin ma ibu. Gak, aku gak mau. Bukan seleraku dan ini bukan zamannya lagi. Dijodohin??? Ini era milinium bukan era siti nur baya, hati kecilku bersuara.
“Selesai.” kataku pendek seraya membersihkan puingan-0puingan kacang ijo yang jatuh tak karuan di sela bibirku dengan tissue.
”Lho, nasi gorengnya kan belum.” kata ibu mencegahku beranjak dari meja makan.
“Dah kenyang, Bu.” tukasku seraya melangkahkan kaki.
Setelah agak jauh dari meja makan. Aku menaruh telapak tangan ke bibir, menariknya ke depan beberapa senti dan dan berkata Muuuah. Kemudian tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi-gigiku.
”Daaaaaaah!” kataku kemudian. Kulihat dua pasang mata itu tak lelah melihatku dengan tatapan aneh.
“Ugh, selamat.” kataku sambil menarik nafas panjang sebab aku telah lari dari kepungan mata-mata tajam itu. Sepertinya mereka masih ingin mencari tahu apa yang aku pikirkan tapi, ya sudahlah akan aku jawab masih belum. Toh, waktunya tinggal beberapa bulan lagi. Masih lama. Aku melihat kalender di tembok kamarku yang di cat putih. April 2006, mataku berkelana melihat minggu kedua di bulan April tanggal sembilan. Aku mendelik, Bola mataku kuperlebar berharap apa yang kulihat salah. Aku terkejut. “Enam bulan lagi”, pekikku pelan. Aku memukul-mukul kepalaku berkali-kali mencoba berfikir keras. Itu berarti aku harus segera mencari suami. Gak mungkin dong aku yang AJG pacaran. Waduh, gimana nih.Aku mengaruk kepala yang tidak gatal. Segera tanganku membalik-balik kalender yang berisi pemandangan itu dengan cepat. Mataku tertuju pada satu titik. Angka 27. Tepat aku berumur 21 tahun. Aku garuk-garuk lagi kepalaku. Binggung. Aku mulai menghitung. Tanggal 27 September hari Rabu. Segera tanganku merogoh ranselku, meraba-raba mencari sebuah kotak tipis. Kalkulator. Indra perabaku berhasil menemukannya, segera ku hitung berapa hari di bulan ganjil dan berapa hari bulan genap. Aku memakai metode jemari tangan untuk mengetahui 30 ataukah 31 hari. Aku menggelompokan huruf A berisi 30 hari dan huruf B berisi 31 hari. Aku masih binggung, aku mengambil kertas . Aku menuliskan bulan-bulan apa saja yang tergabung di A dan B. Aku mulai menulis. Tergabung di A bulan April, Juni, September. Untuk huruf B, Mei, Juli dan Agustus.
Telunjuk kananku tak hentinya menekan tombol-tombol hitam yang berada di kalkulator, menekan angaka 30 kemudian mencari tanda silang di sana, mengalikannya dengan angka 3 dan menekan tanda sama dengan untuk mencari hasil akhir. 90. Begitu juga untuk angka 31dikalikan dengan 3, hasilnya 93. Setelah itu aku mengurangkan 90 dengan 3 sebab angka tiga itu akan mengurangi 27 dari angka lahir. “ Perhitungan ini kurang efisien”, kataku seraya memukul-mukul kepala dengan telunjuk berharap kepalaku itu marah dan memuntahkan syaraf-syarafnya agar aku dapat menghitungnya dengan cepat.
” Dimulai dari April tanggal 9 itu berarti 30-9”, kataku kemudian menuliskannya di kertas tadi.
Aku menghitung hasilnya dengan Karce. 21. Aku tersenyum kemudian menghitung lagi untuk bulan September ada 27 sebab dipotong hari ultaku, lalu menambahkannya dengan 30 dari bulan juni. Totalnya ada 78 hari.
” Sekarang bagian B tepat 93 hari. Jadi total keseluruhan ada 171 hari”, kataku pelan.
” Itu berarti gak sampe enam bulan”, aku terbelalak
“Waduh!” kataku khawatir
Aku memutar otak. Bagaimana jika aku merubah perjanjian itu, meminta kakak turut mengubahnya. Tapi, perjanjian itu telah kami sepakati dan lagi kami telah bersumpah atas nama Allah. Gimana dong? Sebagai muslim aku gak boleh ingkar, aku harus amanah seperti sifat rasul yang tak pernah ingkar tehadap janjinya. Tapi, itu kan perjanjian boongan, janji sewaktu kecil sebelum aku masuk universitas. Kira-kira 3 tahun yang lalu. Aku mendesah. Aku berpikir lagi, berpikir dengan keras.
“Aku bilang aja aku dah punya calon.” kataku seraya menjetikkan telunjuk
Sebuah pikiran gila itu melintas di otakku. Aku akan berbohong. Toh itu buat kebaikan, bisik hatiku. Tapi, nurani melarangku untuk berbuat itu. Hal yang sangat dibenci Allah dan rasul. Berkata dusta.
“Gimana nih? Apa aku minta tolong ke Dina ?” kataku mangut-mangut sambil mengambil nokia milikku di meja dekat kasur.
Aku memencet tombol-tombol di sana, menuliskan sebuah pesan untuk Dina sahabatku. Siapa tahu Dina bisa menolongku. Dina kan sahabatku yang baik. Tapi, apa Dina bisa? Aku rancu. Ah, sudahlah siapa tahu bisa. Pesan sudah diterima, aku menunggu balasan sms darinya.
“Ketimbang bengong mendingan aku ngelanjutin baca buku ini.” kataku.
Mengatasi kegoncangan Jiwa. Judul buku yang aku baca, karangan . Siapa tahu aku dapat tips buat ngatasin problemku ini. Aku menelaah kata-kata di sana, ribuan nasihat tertera. Tips agar ini dan itu. Sebuah lirik nasyid dari Raihan menggema dari nokia milikku. Message receieved tertulis di sana. Aku membuka pesan. Ukh Dina. Aku membaca pesannya
Was. Ana bi khoir. Insya Allah ana bantu.
Aku tersenyum. Bahagia. Pesannya singkat tanpa perkataan apa-apa. Padahal pesanku panjang sekali hingga dua sms yang aku kirimkan padanya. Memang sahabatku itu gak banyak ngomong baik di kampus bahkan di sms sekalipun. Jauh dariku, super bawel and banyak yang diomongin.
Ass.Kaifa khaluk ya ukhti mahbubah? Ana dalam mslh yg gk bs ana ceritain di sini coz ana bnr2 binggung. Gmn ngatasinnya? Antum th kondisi kelurga ana. Parah. Gak seperti keluarga antum yg islami sekali. Ana iri. Antum bs Bantu kan? Insya 44J ana tunggu besok bada’ dhuhur di Al-Hadit. Bls GPL.
Itu pesan yang aku kirimkan padanya. Besok akan kuceritakan permasalahan yang selama ini menganjal di otakku, masalah yang selama ini aku tutup rapat-rapat. Pada akhirnya aku sendiri yang pusing dan meminta solusi pada orang lain. Aku gak dewasa sama sekali. Gimana kalo aku disuruh nikah ma Dina, aku kan masih suka dipeluk ma ibu. Aku masih suka jalan-jalan sendiri, masih ingin bebas seperti burung yang terbang di langit, masih ingin nonton kartun meski umurku menginjak 21 tahun. Waduh, gimana kalo sahabatku punya pikiran kayak githu. Aku yakin sekali ketimbang aku bohong solusi yang baik kan pernikahan dini. Oooooooh tidak aku gak mau.
“Kenapa kamu, Flor? Ngomong sendiri githu”, kata kakakku sambil tertawa melihatku yang sedari tadi ngomong sendiri tak karuan.
“Gimana? Dah dapet?”, sambungnya lagi seraya melihat kalender yang ada di bawah serta kertas putih yang penuh coretan dan lagi sebuah alat hitung berserakan di lantai.
“Wah, wah, wah. Mau narik arisan, kok pake ngitung hari segala?”, lanjutnya lagi sambil membaca coretan-coretan kertas putih itu.
“Ato mau ngitung bunga”, tambahnya lagi seraya terkekeh
“Oooooh kakak tahu. Kamu pasti lagi ngitung hari buat cari pacar yang di mata kakak dapet nilai sembilan ya. Gak mungkin kamu bisa ngalahin cowok kakak. Ganteng, pinter, anak orang kaya apalagi coba yang kurang dari my honey”, sambungnya bangga
“Soleh. Cowok kakak kurang soleh. Inget di perjanjian itu kriteria cowok yang aku ajukan juga ada. Dari segi agamanya harus sepuluh di mataku. Nah kalo cowok kakak berapa?”, tanyaku padanya. Kakakku terbelalak kaget.
“Agamanya juga kudu Ok di mataku”, tambahku lagi dengan nada menantang.
“Ehm, okay! Emang Miki dapet nilai berapa di mata kamu?”, tanyanya penasaran
Aku terdiam sebentar. Gak mungkin cowok model Miki dapat angka sepuluh. Nilai tiga aja masih perlu diklarifikasi kebenarannya. Lha Miki gak bisa ngaji, ayahnya yang katanya pengusaha juga nonIslam, lagian tiap malam keluyuran.Sebesit pikiran melintas di otakku kemudian aku tersenyum seolah menganggap enteng musuh yang ada di depanku.
“Tiga.” jawabku enteng
“Haaaaaaaaaa. Tiga???” protes kakakku
Dia menarik nafas panjang. “ Okay. Emang cocok kok”, balasnya mangut-mangut mengiyakan.
“Tapi, kamu dah nemu cowok yang cakep sesuai kriteria yang kakak tuliskan di perjanjian itu?” tanyanya lagi.
“Gampang. Semua beres kok.” balasku sok tenang padahal dalam hatiku merasakan sesuatu yang sebaliknya.
“Kapan kamu bawa dia ketemu ma kakak? Biar kakak lihat dan kakak nilai dia. Paling banter wajahnya dapet 6”, tantangnya meragukan kata-kataku
“Lihat aja nanti! Pahlawan selalu menang di babak terakhir”, sungutku ketus
“Pahlawan? Ugh”, balas kakakku seraya melempar guling ke wajahku
**************************************
Siang hari di base camp Al-hadit. Selepas sholat dhuhur tadi aku merasa tenang. Aku duduk-duduk di mushola fakultas teknik, menunggu Dian yang sedari tadi belum nongol. Aku sudah miscol dia beberapa kali. Hasilnya nihil. Wajahnya yang kalem belum juga kulihat. Aku masih menanti sesosok tubuh mungil yang berbalut gamis panjang. Hatiku tak tenang, resah. Aku mengambil mushaf dari ranselku yang berwarna biru agak matang, membacanya pelan dan tartil sebab aku sedikit bisa dalam hal tajwid. Sesosok tubuh mungil yang sedari tadi kutunggu ada di hadapanku kini. Dina, gamisnya warna biru langit sepadan dengan jilbab yang dipakainya.
“Afwan, Ukh. Ana tadi ngubungin dosen PA”, katanya lembut seraya menjejeri dudukku yang bersila di pojokan tembok.
“Sodakallahuladhim”, kataku mengakhiri bacaan
“Gak pa-pa kok, Ukh. Ana yang kudu minta maaf ma antum karena dah ganggu acara antum cari PA. Gimana urusannya dah beres?”, kataku seraya melihatnya tersenyum
“Alhamdulillah udah”, jawabnya pendek
“Ada masalah apa ya? Emang ana bisa Bantu apa?”, tanyanya kemudian. Aku ragu mau bilang.
“Ana pengen nikah.” balasku malu-malu. Kemerahan menghias di pipiku yang bersih dan gembil
“Subhanallah.” pekik Dina membalas kata-kataku itu. Pekikkannya itu membuat semua orang melihat ke arah kami. Aku meletakkan telunjuk di bibir.
“Jangan keras-keras, Ukh! Ana malu.” kataku kemudian
“Afwan. Saking senangnya ana sampe histeris. Kapan antum dikhitbah?” tanyanya seraya melihatku yang tertunduk lemas.
“Itulah masalahnya, Ukh. Ana belum punya calon. Ini semua juga keputusan mendadak.” jawabku pelan
“Keputusan mendadak? Maksudnya? Ana gak ngerti.” tananya heran
Aku menghela napas panjang mengeluarkannya pelan-pelan. Hembusan udara itu membuatku terasa ringan. Aku malu mengatakannya pada Dina.
“Ehm, ehm, ehm. Gimana ya? Ana gak ngerti.” kataku binggung
“Ehm, ehm apa, Ukh. Ana gak ngerti maksud antum. Coba antum cerita ke ana!” bujuk Dina
”Ana harus cepat-cepat nikah sebelum ana berusia tepat 21 tahun. Ana dah bikin perjanjian itu ma kakak ana sewaktu ana masuk ke universitas ini. Ana pusing gara-gara perjanjian ini.” jelasku kemudian. Aku menahan sesak yang menghimpit dadaku membuatku sesak.
“Perjanjian? Tolong antum jelasin ana masih gak ngerti!” pintanya binggung
Aku sesengukan. Mendung kembali bergelayut di mataku. Tetesan bening jernih itupun turun setitik demi setiitk membuat pipiku basah. Aku menangis. Aku menghapus butiran bening itu dengan telapak tanganku yang putih. Menarik napas dan melihat wajah sahabatku itu dengan tenang.
“Ukh, tenang!” pintanya lembut sambil menyodorkanku tissue yang baru diambilnya dari tasnya yang berwarna merah muda.
”Hapus dulu air matanya. Ntar kita lanjutin kalo dah kelar nangisnya.” pintanya sambil melihat wajahku yang kini tersenyum. Malu.
“ Sukron.” balasku
Aku mulai menceritakannya dari awal. Dari perjanjian yang aku buat bersama kakak. Tepatnya 16 Juli 2004 lalu, perjanjian itu kami buat berdasarkan kesepakatan yang telah kami sepakati meskipun tidak disaksikan notaries tapi Allahlah yang menjadi saksi kami. Perjanjian itu berisikan kriteria cowok idaman kami masing-masing dan cowok itu harus didapatkan ketika aku berumur tepat 21 tahun. Kriteria cowok yang aku ajukan pad kakak amatlah simple. Sholeh. Sedangkan kakakku cowok itu harus bernilai sembilan di matanya. Pintar, kaya, ganteng, sehat, kulitnya putih.hingga syrat-syarat yang aku ajukan ketika itu. Syaratku cukup simple kakak kudu berjilbab




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: