CATATAN AKHIR SETANGKAI BUNGA

Akhir Desember 2005
Akankah mentari itu berbalik tuk memberikan sinarnya padaku lagi. Lebih dari bulan-bulan yang aku lewati tanpa cahaya itu, menyimpan seberkas sinar tak berarti sia-sia. Tapi itu harapan, asa yang tak akan aku ketahui ujung pangkalnya. Asa yang membuatku berseri-seri tiap harinya, asa yang memberiku ribuan bahagia yang tak dapat aku pastikan kapan berakhir. Andaikan aku mengerti perasaan sang mentari, tapi aku bukan Tuhan, aku hanyalah bunga yang hampir mekar, merekah dan menebarkan wewangi yang membuat semarak isi duniaku, dunia cinta milik semua orang yang merasakannya. Andai aku bisa untuk mendapatkan energi cahaya dari sinar itu, aku akan berfotosintesis, lebih cepat mekar, dan berbunga. Tapi aku tak mengerti, mengapa mentari itu enggan memberiku cahaya. Tampaknya mentari lelah, dahulu mentari itu memberiku banyak cahaya, sinar yang benderang hanya untuk setangkai bunga yang masih kuncup, tapi dengan rasa setangkai bunga itu tak menembusnya. Apakah mentari terluka karena itu? Aku bunga yang belum mengerti sifat mentari, akankah ia bersedia memberi cahayanya untukku lagi, tidakkah ia tahu kini aku merindukan sinarnya itu. Temui aku mentari, disini, di, taman penuh cinta yang suci. Bunga menantimu, mengharap seberkas sinarmu meraih tangkai hatiku.
Awal tahun baru 2006
Mentari, malam ini adalah malam tahun baru, menjelang penghujung tahun itu dapatkah aku masih berharap akan sinar-sinarmu lagi, meski aku tahu kau tak lagi bertengger di angkasa itu. Mentari, aku rindu sapa hangat pagimu, disertai cericit dawai kasihmu dulu, Kemanakah semua itu berlari meninggalkan diriku?
Kau tahu mentari, sekarang ini mendung tak lagi menyaingimu, tapi mengapa engkau enggan memberikan energi untukku, tak adakah keinginan dalam jiwamu untuk menyentuh bunga ini??? Mentari, mendung amat berbahaya bagiku, tak akan ada ruang untuknya lagi, sebab mendung membuatku kering, dan layu. Berbeda sekali dengan dirimu, Mentari.
Mentari, kau masih ingat saat kita bersama saling memberikan seisi dunia ini dengan kabar gembira, mereka pun menyambut hangat berita itu, saat itu dengan jiwamu yang membara. Mentari, hari ini aku pergi ke tempat yang biasanya kita kunjungi, tempat indah masa lalu kita. Akankah kau ingat itu semua mentari? Aku, setangkai bunga yang tidak akan pernah lupa akan sinar-sinar hangatmu, selamanya, seumur hidupku.
Akhir Januari 2006
Hari ini hari istimewa, saat dua tahun yang lalu, perlahan kau memberiku hangat, saat itu aku ingin perlahan menyentuhmu. Namun aku takut terkena panasnya dan pasti langit akan murka melihat bunga sepertiku bersanding dengan cahaya yang juga milik-Nya??? Dan kau selalu bertanya sebelum embun pagi menetesiku dengan serpihan bening putih. Mentari, aku rindu senyuman hangatmu, tatapan sinarmu, dan putih yang terpancar dari hatimu?
Mentari aku berlari, jauh, jauh sekali dimana tak akan ada kumbang yang membuatku berbunga dan lebih berseri lagi. Aku tak ingin mereka mendekatiku, karena aku hanya ingin menunggumu, di sini, di taman bunga penuh cinta milik kita. Mentari, pemilikku tak henti memberiku jiwa yang baru, entah mengapa mentari aku masih saja membutuhkan energi darimu, karena aku bunga yang tiada akan bisa berfotosintesa tanpa adamu. Mentari, kapan kamu pulang, aku mulai layu dan kering meratapimu?
The My Birtday’s 2006
Hari ini aku hampir saja dipetik pemilikku, sakit sekali, sentuhannya kasar. Aku begitu perih, perih sekali. Mentari kau ingat setahun yang lalu saat kau beradu dengan langit agar tak memberiku banyak tetesan hujan yang akan membuatku merekah dan pasti pemilikku akan mengambilku. Mentari, bagiku kerinduan seperti lagu tanpa melodi, hujan tanpa renggekan katak yang berharap deras, pasir tanpa jilatan-jilatan air laut, serta padang pasir tanpa kaktus yang tumbuh. Lalu, apa makna kerinduan bagimu?. Entahlah mengapa rasa ini benar-benar menyesakkan batinku, menggugurkan ketakutan di jiwaku. Entahlah, apa yang terjadi padaku mentari. Aku berharap pada langit agar memberiku payung yang dapat melindungiku dari derasnya kegundahan hati ini, menentramkan jiwa yang diterpa badai kerinduan, memberi warna yang membuat kelopakku lebih menyala. Andai kau tahu, Mentari, rindu ini teramat menyiksakku, membuat himpit di hatiku, sepi di jiwaku, ragu tuk meraihmu, mentari, dimana dirimu?
Mentari, dapatkah kau ganti hari-hari sepiku dengan senyum cerahmu, dengan sinar benderang wajahmu?. Mentari, bunga disini merindumu. Lalu, apakah kau tahu itu mentari?. Mentari, ribuan hari bunga lewati tanpa hadirmu, sepi, begitu sepi. Tak layakkah bunga sepertiku mengharapmu.
Penghujung April 2006
Mentari, luka itu membuatku perih, bagaikan duri-duri yang menancap di relung hati. Andai saja waktu adalah milikku, tak akan kubiarkan waktu itu menghilang layaknya debu-debu tertiup angin, melayang bersama metana, amonia, hidrogen menjadi udara menempel pada atmosfer bumi . Entah mentari, mengapa rasa ini benar-benar membuat jiwaku perih, batinku merana, sehingga daunku pun tak sudi bergutasi dan berevaporasi. Meneteskan bening-bening putih jernih pada ujung daunnya melalui lubang mulut dalam anggota tubuhku. Aku menginginkan oase yang membuatku tak lagi dahaga, cahaya yang dapat memberiku energi, bening yang membuatku berseri. Tapi, akankah kau mengerti arti jiwa ini? Mentari, aku ingin kau tahu itu, sebuah lukisan-lukisan jiwaku, yang selalu aku goreskan bersama semburan angin, yang membuat warna hijau daunku menjadi kusam berdebu.
Mentari, akankah kau mengerti isi hatiku, yang selalu menggemakan rindu, menjadikannya bait-bait lagu, yang akan aku nyanyikan setiap pagi diiringi cericit burung pagi hari, disaksikan embun, yang nantinya angin akan menghabarkan padamu, Mentari. Entah, jika petang memayungi, rembulan pastinya akan menggantikan posisimu, tapi tidak bagiku mentari sebab aku lebih menyukaimu lebih menyukai hangatmu, lebih menyukai senyum benderangmu, lebih menyukai terang yang kau pancarkan. Kau, tahu mesti rembulan, bintang yang berpijar atau benda-benda langit di angkasa menyapaku, mencoba meraihku, tapi aku tidak peduli mentari sebab setiaku padamu bagai pasir yang merintih menanti jilatan lelaut. Tapi, akankah kau tahu itu, Mentari.
Awal Juli 2006
Tiga bulan tak hentinya aku menitipkan rindu pada angina. Rindu itu irama denyut nadiku, rindu yang menusuk-nusuk, tapi tak jua kau hadir menghapus rindu itu, berbalas irama dan menyanyikan bait-bait kerinduan itu. Apa gerangan salah diriku, Mentari? Mentari, kau dimana kini?.
Tak akan bosan aku mengabarimu tentang wangi yang aku hamburkan pada dunia, tentang melodi yang aku ciptakan bersama embun, tentang lagu yang telah aku nyanyikan bersama burung pagi hari. Tapi, tak jua kau membalas lirihan jiwaku. Mentari, tak perlu kau takut pada langit. Langit yang telah membuatmu jauh dari semerbak wangiku, yang telah membuatmu hilang entah ditelan mendung ataukah dilumat angkasa. Akankah kau mengerti arti benderangmu bagiku, Mentari? Dan akankah kau tahu warna sinarmu dapat menghapus tetesan jernih pada kelopakku yang menyala. Kau tahu, Mentari, aku masih di sini menunggumu, di taman cinta kita dulu sebab bunga tak akan mekar tanpa sinarmu, sinar yang membuat gejolak di jiwaku, sinar yang membuatku berseri, sinar yang menjadikanku lebih cepat tumbuh.
Akhir Juli 2006
Mentari, angin membisikkan lagu-lagu kerinduan yang aku cari. Angin memberiku kabar seindah pelangi, yang warnanya begitu beraneka, yang warnanya selalu aku rindukan. Merah, jingga, kuning, hijau, dan warna-warni berkumpul dalam spectrum, membuatnya begitu cantik untuk dipandang bahkan dilihat mata yang bulat. Mentari, benarkah kabar yang seindah pelangi itu dari terang yang aku tunggu. Mentari, aku bahagia, teramat bahagia sebab kau memberiku warna-warni itu, tapi kau dimana, Mentari. Tak jua bunga dapati sinarmu yang seelok emas ketika berbias dengan air jernih, tak pula aku dapati sengatan hangat dari bentuk tubuhmu yang bulat diliputi putih yang menyala. Dimana kau, Mentari? Bunga masih disini, kelopakku pun menyambut hadirmu. Lihatlah mentari kelopakku berwarna menyala, rasakan semerbak wangiku mentari, seharum wangi kesturi, hijau daunnya pun menambah apik tubuhku. Mentari, aku menyambutmu dan akan menunggumu di sini hingga petang menyelimuti angkasa dan membuat seisi dunia gulita karenanya.
Pagi hari di bulan Agustus
Mentari, aku masih tersenyum sembari menunggu hadirmu. Aku bercanda dan bernyanyi dengan burung pagi hari. Tidakkah kau dengar cericit kerinduan burung itu. Cericit riuh yang berisikan melodi-melodi kerinduan, bait-bait sudut hatiku. Begitu pula embun yang tak jua mengaliriku dengan kristal-kristal bening. Kristal itu dawai jantungku. Menetesi daunku satu persatu. Dapatkah kau mendengar atau merasakannya, Mentari?
Angin berhembus lirih. Aku bertanya pada angin tentang kabarmu, tentang keadaanmu, tentang sinar-sinar yang kau pancarkan dulu padaku. Tapi, angin tak menghiraukanku lagi hanya debu-debu yang ia tinggalkan pada hijauku. Aku tak ingin debu-debu itu membuat kelopakku kusam dan terkotori olehnya sebab aku akan menjaganya hingga kau datang dan memberiku sapa hangat itu lagi. Hangat seperti dulu. Hangat yang selalu kau tawarkan padaku. Tapi, kini…. . Entahlah mentari aku tak pernah bosan menunggu hangatmu meski dedaunku pelahan gugur satu-satu. Mentari, aku tak ingin bersedih ataupun meneteskan butiran-butiran bening di ujung daunku mungkin pula bening itupun akan menghujani kelopakku tapi bening itu tak berbau segar dan khas seperti embun, bening itu membuat jiwaku perih. Perih.
September 2006
Kau tahu mentari rembulan mencoba memberiku sinar begitu pula bintang-bintang itu. Tapi, kau tahu sinar itu tak berbias pada tubuhku ataupun jiwaku sebab sinarmulah yang aku cari. Sinar hangat yang mampu membuatku berfotosintesa dan menghasilkan gula yang teramat manis. Mentari, benarkah kau telah bersanding bersama langit. Langit yang dulu selalu kau benci, langit yang dulu tak pernah kau hargai. Tapi, kini kau duduk dan berbaris mengikutinya seperti galaksi yang berada di angkasa. Benarkah itu mentari. Mentari, aku meminta sedikit benderangmu, melihat rupamu yang berkilat putih. Mentari, temui aku di sini, di taman cinta kita dulu.
November kelabu 2006
Kau tampak lebih bulat dan bercahaya, sinarmu lebih benderang dan menyala. Kau begitu indah mentari, apa karena rindu yang membuatku merasa seperti itu. Lebih dari detik-detik yang aku lewati tanpamu hingga bulan-bulan yang bisu menemani harian kuncup-kuncup bungaku menjadi mekar dan memberi wewangi yang semerbak. Mentari, kilatanmu bagai emas yang berkilau di dasar samudera, kau begitu bersih, begitu bersinar. Tapi, kau tak lagi memberiku hangat yang berlebih seperti dulu. Kau membagi hangat itu pada seisi dunia, dunia yang selalu mencercamu karena sengat yang kau beri. Mentari, apa yang terjadi padamu? Apakah langit benar-benar membuatmu semakin jauh sebab kau bertambah anggun dan tunduk seperti bunga-bunga yang tertiup angin. Mentari, payungi aku dengan hangatmu, aku ingin kau memberi hangat yang berlebih untukku.
“Andaikan jiwamu berada di tangan Yang Maha Besar, memberimu beban yang teramat berat untuk kau tapaki dalam jalan hidup yang telah ditetapkan langit padamu. Tapi, akankah kau mengerti langit akan membalas beban yang berada di pundakmu menjadi ringan bagaikan debu-debu yang tertiup angin. Kau juga akan mengerti warna-warni pelangi yang akan kau dapati apabila kau bersanding bersama langit, bersama seisi jagat raya yang senantiasa tunduk dan patuh pada-Nya. Mereka juga akan menikmati indahnya pelangi serta artinya. Sebuah kehidupan abadi. Dan kau akan tahu pula jalan menuju pelangi itu begitu terjal dan berliku, penuh curam-curam karena tebing-tebingnya yang tinggi. Bunga, ikutlah bersama kami, meraih pelangi. Pelangi yang lebih berwarna-warni, pelangi yang akan lebih dekat untuk kau nikmati”, terang mentari berseri-seri dengan kilatan putih.
Mentari begitu congkah. Ia kokoh berdiri dengan kilatan putihnya yang baru, kilatan yang memberi hangat seisi dunia tapi tidak seakrab dan sehangat untukku. Mentari, aku kehilangan berkas sinarmu, sehingga sulit bagi daunku merasakan sinarmu, sinar yang dapat menghasilkan ribuan makanan untukku. Sinar itu telah pergi, meski kau kembali hadir. Ketika aku melihat jiwamu yang baru tak lagi kau tersenyum hangat padaku. Tahukah kau mentari senyummu begitu kutunggu tapi semua sia-sia, kau tak lagi peduli pada setangkai bunga sepertiku. Mentari, kristal-kristal bening itu menghujaniku, menetesi kelopakku satu-satu begitu juga daunku. Hujan kristal yang begitu deras teramat lebat.
Awal desember 2006
Mentari, tak henti-hentinya kristal itu menetesi daunku, kelopakku, tangkaiku. Semuanya basah bukan karena embun, ataupun guyuran segar dari langit. Mentari, aku sedih. Perih, melihatmu berdiri tanpa peduli pada bunga sepertiku. Andai langit memberiku waktu untuk diputar kembali, tak akan aku sia-siakan untuk merajut bahagia bersamu. Tapi, dulu aku begitu rapuh dan takut akan kemarahan langit. Mentari, aku, aku, aku ingin merajut benang-benang kerinduan itu menjadi kebahagian yang tak akan pernah berakhir. Abadi.
Pertengahan Desember 2006
Mentari, aku masih tak mengerti. Pancaranmu yang lebih terang, sinarmu yang begitu hangat. Semua itu bukan hanya untukku tapi seisi dunia, seisi bumi. Begitukah, bila langit telah memberimu beban yang pernah kau ceritakan padaku sebulan yang lalu. Beban itu begitu kau hargai dan kau junjung tinggi. Aku masih begitu lugu untuk tahu itu. Apa gerangan yang mebuatmu begitu mencintai warna biru yang terbentang di sana. Adakah yang lebih indah dan lebih wangi dari setangkai bunga sepertiku. Seperti apakah kiranya wujud yang membuatmu begitu membara berkelana mencari wewngian yang lebih dari bunga-bunga.
Mentari, ada apa dengan biru yang mengepul di angkasa sehingga kau begitu ingin bersanding dengannya. Memang biru yang terbentang disertai arakan putih itu lebih indah daripada flos yang aku miliki. Terkadang aku juga rindu pada langit, pada pelangi yang selalu menemaninya ketika rintik-rintik hujan berakhir. Mentari, aku telalu kecil dan mungil ketimbang langit yang lebar dan panjang. Bahkan langit begitu setia memayungiku dan seisi bumi, melindungi dari tabrakan-tabrakan benda-benda yang tak bisa aku ketahui karena aku hanyalah setangkai bunga yang hanya bisa memberikan satu warna pada kelopakku dan wangi sebagai aroma. Mentari, izinkan aku bercanda denganmu dengan sahabat barumu. Sahabat yang membuatmu begitu jauh dariku. Aku juga ingin mengenal langit lebih jauh lagi seperti kau mengenalnya karena aku ingin tahu seberapa besar cinta yang ditawarkan langit padamu.
Akhir Desember 2006
Aku tak peduli meski angin memberikan semilirnya padaku, membawa partikel debu-debu yang akan mengotori kelopakku karena aku tak akan berhias untukmu, tak lagi menunggu hadirmu. Kau tahu mentari, aku juga merasakan cinta yang tulus dari-Nya, cinta yang membuatku semakin berbunga-bunga, cinta yang membuat kelopakku lebih menyala. Mentari, aku begitu sesak ketika menyebut nama-Nya dalam sujud-sujudku ketika angin berhembus. Aku begitu haru ketika pagi masih menyapaku, ketika embun menyadarkanku dengan kristal-kristal jenihnya agar aku segera merekah dan ikut menyambut pagi.
Kau tahu, kini aku menemukan cinta yang lebih indah dan hangat bukan denganmu mentari. Tapi dengan pemilik langit, penciptamu dan pencipta bunga sepertiku. Memang aku setangkai bunga yang hanya bisa memberi indah pada kelopaknya, memberi wangi dari harumnya. Tapi, kan kuberikan segalanya pada penciptaku, pada pemilik bentangan yang biru. Kini aku benar-benar terjatuh, terjerembab hangat dan aku tak akan pernah dahaga sebab aku telah menemukan oase. Oase yang tak akan pernah kering dan akan memberiku tetesan bahkan guyuran segar yang membuatku lebih berseri. Kau tahu mentari, sinar kasih yang Dia pancarkan lebih terang daripada sinarmu. Kau benar mentari bersanding bersama pemilik langit jauh lebih indah dan berwarna. Sekarang aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, rasa yang berbeda sebab ini bukan hanya cinta biasa, cinta yang abadi. Selamanya hingga tangkai bungaku terpetik oleh-Nya.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: