Acuh dan Keterbukaan

Setiap manusia memiliki kekuatan untuk berkreasi, berbuat, atau hanya berpendapat. Begitulah anugrah istimewa ini diberi gratis oleh Allah. Tapi tahukah anda dengan kekuatan itu manusia bisa bersikap acuh, sinis, dan enggan berkompromi.

Seorang pegawai baru datang dalam iklim kerja baru, tentu bersamanya terhimpun kekuatan dan kelemahan manusia ada pada dirinya. Dalam perjalannanya tanpa sadar ia pasti meninggalkan kesan yang pasti dipersepsi oleh pegawai-pegawai lama disekitarnya. Mungkin pepatah tidak ada yang salah dalam belajar itu mestinya mudah untuk diucapkan dalam ranah pembelajaran, tapi ternyata… manusia sulit untuk menerima kesalahan walu hanya kekhilafan.

Ibarat adik harus menghormati kakak tuanya, namun seorang adik juga mengharap kasih sayang dari kakaknya. Setidaknya kasih sayang itu akan mudah dimengerti oleh si adik apabila kakak dengan sayangnya menunjukkan kesalahan adik dan membimbing kemana yang benar. Ah… ternyata hegemoni rutinitas kerja yang berupa tuntutan- tuntutan tugas tanpa terasa menyelimuti tabir keterbukaan, akibatnya si adik merasa kaku dalam bekerja dengan si kakak-kakak yang sudah pintar itu.

Haruskah sebuah keluarga harus cuek-cuekan padahal ketidaknyamanan ini mungkin bisa diselesaikan dengan keterbukaan. Lalu apa arti keluarga?




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: