LUPA MENJADI ALAT SUKSES

  Ujian, suatu kata yang sering terdengar terlebih akhir-akhir ini-UNAS. Diberlakukannya ujian apabila ada pembelajaran, mungkin hal ini jelas tampak wajar apabila di sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan. Tapi apakah kita sadar jika setiap saat dan setiap waktu manusia mengalami ujian? Mengingat kembali adalah usaha yang pasti kita lakukan untuk “menjawab” soal-soal ujian ini, dan itu lumrah. Tapi, apakah kita sadar apabila lupa juga memiliki peran penting dalam ujian yang “ini”?

  Pertanyaan-pertanyaan ini tampak sepele, tapi apakah kita telah merenunginya. Ujian dan hidup apabila digabung menjadi ujian hidup. Disadari atau tidak setiap detik, menit, jam dan seterusnya manusia akan terus belajar yang pada hakekatnya untuk memahami dirinya sendiri secara berarti. Setiap panca indera manusia melakukan belajar memahami lingkungannya. Lidah akan merasakan sesuatu yang membuat kita selalu rindu akan masakan enak atau memuntahkan rasa tidak enak, mata akan selalu melihat ke depan anda yang mungkin anda ingat atau anda campakkan saja. Ya, semua perbedaan ini hanya terletak pada bagaimana tanggapan annda terhadap respon yang diterima panda indera.

  Maksudnya, anda akan menjadi manusia pembelajar apabila anda memahami setiap detik momen hidup anda, anda akan menjadi “murid” yang mungkin sukses apabila anda memberikan perhatian dan memaknai perjalanan hidup anda. Dengan demikian ingatan menjadi tool penting anda untuk menjadi seorang pembelajar.

  Namun mengapa lupa menjadi tool penting selanjutnya? Dengan lupa manusia bisa belajar bagaimana bersikap bijak, dengan lupa manusia belajar menghormati orang lain, bahkan dengan lupa manusia menciptakan teknologi. Mungkin bisa disebut mensyukuri lupa  dengan manajemen agar lebih positif.

  Anda akan senang apabila teman anda melupakan kesalahan-kesalahan anda selanjutnya memaafkan anda, manusia juga akan gembira apabila lupa akan hal-hal buruk yang menipanya yang selanjutnya belajar agar tidak mengalaminya lagi, dengan lupa manusia juga menciptakan banyak inovasi teknologi pembantu untuk “menghatasi” lupa meski toh, lupa tidak akan hilang dari jati diri manusia.

  “Manusia tempat salah dan lupa” begitulah ungkapan suci dari Rosulullah. Tampaklah keterkaitan antara salah-lupa. Sekarang tinggal bagaimana anda mensikapi yang konon dibilang kelemahan ini. Manusia yang bijak adalah manusia yang dapat mensyukuri kelemahannya.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: