BK vs KTSP

TANTANGAN BIMBINGAN KONSELING DALAM KTSP

Ditetapkanya UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas maka terjadi perubahan-perubahan besar dalam konsep dasar mendidik yang terimplementasi lewat kurikulum. Sejak digulirkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) untuk lebih menyempurnakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), niat pemerintah untuk menerapkannya pada akhir tahun 2007 banyak mendapat sorotan.
Upaya sosialisasi melalaui pelatihan, workshop, hingga pendapingan tentang KTSP, agaknya sudah gencar, bahkan di Jawa Timur, dinas pendidikan menghimbau secara khusus kepada sekolah-sekolah favorit untuk lebih aktif dan dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain. Meski demikian, toh masih saja dirasa kurang bagi kalangan praktisi pendidikan khususunya guru di sekolah.
Pada mata pelajaran Bimbingan Konseling (BK) sebelumnya yang hanya menekankan pada konseling dan pendampingan murid guna menjembatani komunikasi antar lini seolah dan orang tua.. Kini dalam KTSP, BK memiliki peran sentral bukan saja pada garapan konseling individu, belajar, sosial, dan karir bahkan lebih dengan membawahi unit pengembangan diri yang lebih dikenal dengan ekstrakurikuler.
Memang pengembangan diri menjadi salah satu lahan garap konseling, tetapi sejauh mana peran guru BK membawahi suatu unit kerja notabene dari dulu hanya menjadi pelampiasan murid berkreatifitas secara asal atau sungguh-sungguh.
Akusisi BK dengan disiplin ilmunya ke dalam unit ektrakurikuler tak hanya memberi pertimbangan arah pengembangan diri tetapi juga menyelaraskan kreatifitas anak didik dengan sekolah. Tantangan yang muncul adalah bagaimana dengan independesi kreatifitas yang lahir dari intuisi unit ektrakurikuler yang mapan. sikap ini nampak dari hasil perubahan paradigma berfikir masing-masing unit. Dalam Andreas Harefa (2000), paradigma adalah binkai sebuah kacamata sedang sikap adalah lensanya. Maka sikap terkurung dalam paradigma.
Kreatif menurut JP Chaplin adalah upaya memfungsikan kemampuan mental produktif dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah dari perluasan konseptual sumber-sumber informasi. Sedang intuisi menurut Berker yaitu kemampuan melakukan penilaian dalam membuat keputusan yang tepat dengan data-data tidak lengkap. Bagaimana hendaknya membuat keputusan, filosof Herb Shepherd memberikan pertimbangan dengan menjabarkan kehidupan manusia itu disekitar empat nilai ; spiritual, otonomi, sosial-emosional, dan fisik. Sebagaimana tujuan pendidikan, menjadi kreatif bukan berarti bebas nilai, sebab ada nilai fitrah luhur manusia untuk bertanggungjawab kepada Tuhan dan sosialnya.
Saatnya pendidik dan semua unit-unit meletakkan anak didik bukan sebagai obyek ajar ajar melainkan subyek yang ikut terlibat dalam istilah Ignas Kleden learning how to think (belajar tentang) dan learning how to do (belajar bagaimana) agar lebih menjadi dewasa yaitu mampu menyeimbangkan keberanian (courage) dengan pertimbangan (consideration) begitu kata Steven R. Covey.


  1. Mira

    tolong info pelatihan pengembangan ktsp khususnya BK yang bertempat di parung bogor

  2. rita

    sampai sejauhmana sih keterkaitan guru bk dengan kegiatan ekstrakurikuler

  3. yudi

    Melayani BK vs KTSP pada sekolah kejuruan seperti STM yang sebagian besar siswanya cowok dan rata-rata bersifat pembangkang. pelayanan apa yang lebih tepat diterapkan?

  4. sujeri

    lebih sempurna jika bk yg ada dikombinasikan dg pend agama




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: