Spirit tahun baru Hijiyah

TAHUN BARU SEMANGAT (NILAI) BARU

Tahun baru Hijriyah adalah tahun baru bagi umat Islam yang menggunakan kalender Hijriyah. Ditetapkan sebagai kalender oleh Rasulullah atas usul Umar bin Khattab sejak 1428 tahun yang lalu.
1 Muharam masih kalah semarak dengan 1 Januari. Kalaupun semarak, umat Islam tampak menyeretnya kearah hidonistik tahun baru masehi. Atau bahkan ada yang tidak mengerti apa itu hijriyah, Tapi tengok saja tahun baru Imlek, etnis Cina dapat menyemarakkan sama seperti tahun baru masehi. Mengapa demikian?
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kit abaca. Pertama, belum terbiasa. Semagat perubahan yang dibawa masing-masing tahun baru mungkin kurang lebih sama. Masehi, Imlek dan hijriyah adalah sama-sama tahun baru. Kalender masehi, lebih dikenal oleh masyarakat baik muslim maupun etnis Cina. Liatlah nama-nama bulan dari Januari, Februari, hingga Desember banyak yang hafal di luar kepala. Hari Senin, Selasa, hingga Minggu sudah sering digunakan. Tapi, berapa banyak yang kenal Muharram, Rajab, hingga Dzulqo’dah. Jadi wajar apabila mayarakat kita khususnya umat Islam larut dalam euphoria tahun baru.
Kedua, belum menjadi tradisi, suatu tindakan yang terus-menerus menjadikan kebiasaan, kemudian kebiasaan yang terus-menerus akan menjadi tradisi. Etnis Cina (=menurut penulis) merupakan salah satu etnis yang tidak melupakan budaya. Liat saja desain rumah, hiasan dinding, lampu, tulisan, hingga tarian sebut saja barongsai mampu menjadi trend sendiri di Indonesia. Tak afdhol rasanya apabila saat Imlek tanpa suguhan baronsai dan petasan, lampion dan lilin, bahkan etnis Jawa, sunda, dll malah ikut-ikutan. Hijriyah memang bukan tradisi Arab, tetapi bentuk tindakan yang dipelopori oleh Islam yang kebetulan muncul di Arab.
Ketiga, masayarakat belum paham filosofinya. Tahun baru hijriyah bukan ajang pesta dan foya-foya, bukan akan jalan-jalan dan shopping karena filosofi tahun baru Masehi yang notabene selalu dirayakan dengan pesta sejak zaman Romawi berbeda dengan Hijriyah. Kalender ini dimulai sejak hijrah nabi Muhammad SAW ke Madinah yang notabene adalah tonggak dakwah dan tegaknya Islam sebagai rahmatan lil’alamin secara sempurna. Hal ini tampak pada konsep dakwah Rosulullah sebelum hijrah dengan sesudah Hijrah. Munculnya ketetapan-ketetapan hukum syar’i yang bernilai hablum minannaas lebih dominan. Maka tahun baru hijriyah memiliki nilai filosofi semangat revolusi diri menuju arah lebih baik.
Filosof Herb Shepherd menjabarkan kehidupan manusia itu disekitar empat hal yaitu spiritual, psikologikal, social-emosional, dan fisik. Sebagai umat Islam yang memiliki tahun baru sendiri yang tentu memiliki semangat sendiri, hendaknya lebih memaknainya dengan kedewasaan relegius yang jauh sebelum Shepherd, Nabi menegaskan perspektif manusia yang benar adalah khoiru ummah (jasmani rohani dan ‘amar ma’ruf nahi mungkar (social-relegius) yang apabila dijabarkan, maka seorang muslim harus memiliki salimul ‘aqidah (aqidah benar), shohihul ‘ibadah (ibadah benar), mathinul khuluq (akhlak baik), qowiyul jism (sehat), mutsafaqatul fikri (wawasan luas), qodirun ‘alalkasbi (mampu mengidupi diri), mujahidul linafsihi (mandiri), munadhoman fiisu’unih (tertib), dan nafiun lighairihii.(bermanfaat bagi orang lain).




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: