Happy New Year?

HAPPY NEW YEAR ?

“Tahun baru lalu, kita adakan pesta jalanan, gimana kalau sekarang kita ngadain di hotel tempat wisata, akan lebih asyik lho!” ……. “kayaknya OK tuh!”
Begitu percakapan para pemuda ini dalam mensikapi tahun baru. Bagaimana gambaran tentang merayakan tahun baru hanya identik dengan pesta ditengah musibah menimpa bangsa bertubi-tubi. Kemana rasa empati mereka? Dan mengapa? Pertanyaan sederhana yang perlu kita jawab.
Carl Rogers menyatakan kebanyakan cara-cara bertingkah laku yang diambil orang adalah yang selaras dengan konsepsi self. Maka cara yang paling baik untuk mengubah tingkah laku ialah dengan mengubah konsepsi self orang itu. Struktur konsep self terbentuk dari pola pengamatan yang teratur, lentur selaras dengan nilai-nilai konsepsi diri pemuda secara umum. Maka yang perlu kita cermati adalah bahan pengamatan para anak-anak bangsa hingga pemuda dari hari ke hari.
Pengaruh adalah segala sesuatu yang dapat merubah. Yang manakah yang lebih kuat, itulah yang akan memberikan bentuk perkembangan manusia. Kata Willian Stern bahwa sampai dimana bentuk yang dicapai oleh sesorang, ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal atau lingkungan.
Konsep self pemuda ini juga didapat dari “pendidikan” dari tayangan sinetron, film dan infotaiment yang lebih mendeskripsikan gambaran hidup dengan detail tetang gaya hidup enak adalah mewah, penuh intrik, dan kebebasan bergaul pria-wanita. Sebaliknya kehidupan masyarakat kita kebanyakan jauh dari kesan kaya dan elit. Terlebih lagi, tayangan berita yang kita pahami sebagai informasi terpercaya khususnya info kriminal dan sadistik malah menambah gambaran buram masayrakat kita.
Oleh karena konsepsi mereka ini dipeoleh dari gambaran dari selutuh pengamatan sedikit demi sedikit yang semakin lama teridentifikasikan menjadi inilah “saya”.
Secara jujur, penulis juga mengakui, tidak semua pemuda bangsa kita adalah sama. Maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memberikan konsep diri yang benar ditengah bahan-bahan ajar lingkungan yang belum tentu baik.
Sebagai pendidik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan secara serius. Pertama, tabiat para pemuda akan berfikir mencari jalan untuk dapat menyesuaikan diri. Pola perbedaan lingkungan sebaya cenderung dikomunikasikan dengan bahasa pemuda yang lebih mengena ketimbang bahasa kita sebagai guru. Kedua, kenyataan pengalaman diri saat ini mau tak mau mereka siapkan menghadapi teka-teki “future sock” di masa depan.
Mengingat tanggungjawab pemuda terletak pada semua komponen bangsa. Guru dan orang tua harus dapat bersinergi dalam menjalankan konseling pemuda seperti pembekalan orang tua tentang perubahan perilaku masa remaja. Nantinya konseling bukan hanya oleh guru BP saja tetapi juga melibatkan peran orang tua sebab sock-sock semacam ini harus dapat ditanggapi dengan bijak oleh orang tua juga. Dalam teori Alvin Tofler, perubahan bangsa agraris menuju industri memberikan sock berat, masyarakat akan bercermin pada kemodernan bangsa lain. Alih-alih ingin modern malah membawa degradasi moral bangsa. Khusus untuk televisi yang notabene menjadi second educator, pemerintah dan KPI harus lebih tegas dan bijak. Agar cerminan negatif bangsa modern tidak ditelan mentah-mentah.
Mengahadapi tahun baru ini dengan besikap anti asimilasi adalah naif tatapi bersama mengambil yang positif dan menghilangkan negatif adalah bijak demi kemajuan bangsa.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: