Pertanyaan pendek namun memuat banyak pengetian, disini yang dimaksud adalah tidak terlalu ribet ya.. pergi dan melankah dalam harti sehari-hari. Kita telah melakukannya bukan, mulai dari membuka mata sedari melankah dari tempat tidur untuk memuka pintu lalu ke kamar mandi, melangkah ke sekolah, tempat kerja, menikmati alam, jalan-jalan, belanja, de el el..
Berapa juta langkah yang telah anda ayunkan, berapah energi yang anda gunakan, berapa banyak waktu yang anda habiskan, berapa banyak energi yang anda cucurkan untuk memeikirkan, dan berapa banyak…. berapa banyak lagi….
Namun, sudahkah kita yakin jika apa yang telah kita lakukan itu ada manfaatnya? ada gunanya? ada pahalanya? sudahkan anda merasakan manfaatnya sebagai tabungan untuk “melangkah” yang lebih hakiki. Semua yang saya sebutkan hanya dipengharui suatu yang mungkin remeh atau kecil hingga serasa tidak terasa sama sekali namun jika kita sadar itu sangat besar timbangannya. Suatu yang sering kita anggap kecil dan bisa jadi diremehkan itu adalah dari NIAT kita.
Manusia bergerak jika tanpa kejelasan niat maka hasilnya juga tidak jelas, jika niat itu tercampuri maka hasilnya cuga campuran. Maka Nabi Muhammad telah mengingatkan dan berdoa agar di jauhkan dari musibah besar yang disebabkan oleh salah satu rombongan Muhajirin yang hijrah ke Madinah terdapat beda niat yaitu hanya untuk menikahi Ummul Qois. Cerita ini adalah yang menyertai asbabul furudnya hadist “sesungguhnya setiap amal perbuatan berdasarkan niatnya….”
Begitu hebatnya niat sehingga nabi-pun sampai meminta perlingdungan dari bala niat yang tidak sama karena Allah. Sudahkah kita yakin jika langkah kita adalah ibadah!











16 Agustus 2008 at 6:25 am
Untuk sebuah cinta
Terima kasih atas segala kasih yang diberikan
Untuk sebuah mimpi
jika tak pernah didapati
Redamlah istana bahagia
Untuk sebuah cahaya
yang selalu aku nanti
sinarnya kini pergi
Entah dimana
Makasih kakakku cayang, tapi untuk saat ini aku break dulu
16 Agustus 2008 at 6:30 am
Kemana melangkah, jika rentetan jiwa tak lagi bersama
Kemana melangkah jika berat selalu membayangi hidup kita
kemana harus melangkah bila secercah asa tak lagi berjumpa
Kemana lagi aku harus melangkah jika lelah tak jua melayang pergi
16 September 2008 at 3:58 am
Ya AlLoh… YA rahmann… Ya rahiim…
biming hati ini untuk selalu ingat kepadaMu ya Rabb…
bimbing kami ke jalan yg lurus….yaitu jalan orang2 yang engkau beri nikmat…bukan jalan orang yg kau murkai..dan orang ….yang tersesat….
18 September 2008 at 1:08 pm
Selalu aku bertanya kemana melangkah???
Aku gak berhasil, maz untuk mengajak orang ke jalan kebaikan
Aku harus bersikap bagaimana???
Aku banyak memberikan pengaruh padanya dan kini……
Entahlah aku tak mampu.
Rasanya aku lelah
19 September 2008 at 3:53 am
setiap orang berhak melangkah kemana yang dia suka sesuai dengan tujuan hidupnya, namun apakah tujuan itu benar apa tidak. Para Rosul pun tidak bisa merubah hati karena kewajiban mereka adalah menyampaikan dan terus menyampaiakan. Nah, tugas kita adalah istiqomah dalam ta’awanu bil birri wa taqwa.